15 Alasan dan Kesalahan yang dibuat Mayoritas Penulis

CHAPTER 3

(Dari buku Bagaimana Menulis Buku Kreatif Dalam 14 Hari Atau Kurang by Ronee Paul)

Well, Saya pikir saya tidak bisa menulis, karena selama saya sekolah pun, pelajaran menulis menjadi pelajaran yang paling Saya benci dan membosankan!”

Mungkin MindSet Anda saat ini, Anda benar-benar tidak berbakat menulis, atau alasan-alasan lain yang membuat Anda sampai saat ini belum pernah menulis 1 artikel pun.  Berikut ini Saya mengumpulkan berbagai alasan dan kesalahan yang menghambat seseorang.

1. Anda Merasa Tidak Punya Waktu

Saya yakinkan Anda, saya dan semua orang di dunia punya waktu yang sama dengan Anda dan jika Anda berpikir Anda tidak punya waktu, Anda salah. Sebenarnya Anda punya waktu jauh lebih banyak dari yang Anda kira!

Semua orang sibuk, entah sibuk dengan pikirannya sendiri atau sibuk dengan pekerjaannya.   Apakah Anda punya waktu 2 jam Sehari? Jika Ya, Anda bisa menyelesaikan buku Anda dalam 12,5 hari.  Jika Anda punya 1 jam 48 menit sehari, Anda akan menghasilkan 25 jam dalam 14 hari, dan itu adalah angka rata-rata untuk menulis sebuah buku.

Jika target Anda adalah 100 halaman MS.Word dalam 14 hari, maka Anda harus menulis 7 halaman per hari, untuk mendapatkan 98 halaman dalam 14 hari.  Jika kita sepakat Anda memiliki 1 sampai 2 jam sehari untuk menulis, maka itu bukan berarti Anda harus duduk di depan computer Anda selama 1 atau 2 jam.  Anda bisa menuliskannya selama 45 menit di pagi hari, 30 menit di siang hari dan 45 menit di malam hari.

 

2. Anda Yakin Anda Tidak Punya Kemampuan Menulis

Jika Anda bisa berkomunikasi, maka Anda bisa menulis.  Jika Anda bisa berbicara, maka Anda bisa menulis.  Bahkan jika Anda –maaf- bisu, Anda tetap bisa menulis.  Menulis dengan baik adalah literally version dari berbicara dengan baik.  Jika Anda punya sesuatu yang menarik untuk dibicarakan, maka Anda punya sesuatu yang menarik untuk ditulis.  Tantangan terbesar yang Anda hadapi bukanlah bagaimana membangun kemampuan menulis, tetapi pikiran bahwa Anda harus membangun kemampuan menulis.

Anda sudah memiliki kemampuan menulis, karena prinsip mendasar dalam menulis adalah menulis persis dengan cara Anda berbicara.  Setiap kali Anda melanggar aturan ini, Anda akan mendapati tulisan Anda jelek.  Apakah Anda berpikir terlalu lama sebelum berbicara? Pasti tidak.  Demikian juga dengan menulis, jangan berpikir terlalu lama.

3. Anda Tidak Bisa Menemukan Arah Yang Jelas

Satu, Anda harus punya Topik yang menurut Anda bagus.  Tidak usah pusing dulu apakah menurut orang lain topik itu bagus/tidak, karena nantinya Anda akan terjebak pada keinginan meriset keinginan pembacara terlebih dahulu.

Dua, Anda harus tahu topik Anda ini cocoknya untuk siapa?  Target Pembaca ini juga selalu ditanyakan oleh semua penerbit.  Pembacanya usia berapa, laki-laki/perempuan/semua gender, tingkat pendidikan pembaca dan lain-lain.  Semakin jelas, semakin baik.  Anda tidak bisa membuat scope Target Pembaca terlalu luas karena kita tidak mungkin memuaskan semua orang.

Tiga, Anda harus Fokus pada topik Anda. Jika Target Pembaca Anda adalah Wanita Dewasa usia diatas 30 tahun, gunakan gaya bahasa, ilustrasi cerita, joke dan apapun yang sesuai dengan Wanita usia diatas 30 tahun.

Empat, Pembaca membaca buku Anda karena suatu Kebutuhan. Entah itu kesenangan, solusi, inspirasi atau yang lain.  Anda harus memberikannya pada pembaca Anda minimal salah satunya.

 

4. Anda Tidak Punya Deadline Untuk Menyelesaikan Buku Anda

Ketika Saya mendengar Mama sakit kanker, somehow Saya merasa waktu sudah habis.  Saya berdoa memohon belas kasihan Tuhan dan karena kemurahanNya, Mama saya sembuh.  Berikutnya, Papa saya terkena diabetes dan Mama saya harus operasi karena usus buntunya sudah pecah.  Karena kemurahan Tuhan, Papa Mama saya sehat sampai hari ini.  Peristiwa itu mempercepat kinerja Saya yang bertekad membahagiakan mereka.  Saya menuliskan buku “The Art Of TOP-END Life Mastery Model” hanya dalam 12 hari.

Anda harus punya deadline dan deadline itu harus secepatnya!  Makin mendesak deadline Anda, makin produktif Anda karena Anda akan terpacu untuk fokus menyelesaikan buku Anda.  Hal ini memang erat kaitannya dengan komitmen.  Jika Anda menyimpan kalimat ‘nanti saja dikerjakan lagi’ di dalam pikiran Anda, maka Anda harus menuliskannya ulang dengan spesifik dan mengandung deadline, menjadi, ‘nanti saja dikerjakan lagi, jam 12.30 sesudah makan siang”.  Anda akan mengatur alarm Anda berbunyi 12.30 bertuliskan “waktunya menulis lagi, selama 30 menit, go!”

 

5. Anda Tidak Benar-Benar Jelas Dengan Topik Anda

Saya biasa memanfaatkan waktu luang saya ke toko buku untuk memeriksa database buku yang tersedia di computer.  Saya memeriksa beberapa hal, diantaranya apakah topik yang akan saya tulis sudah diangkat oleh penulis lain.  Jika sudah, apakah isinya sama.  Lalu apakah pembelinya banyak.

Saya juga mengamati buku apa yang termasuk best seller, lalu bercakap-cakap dengan karyawan toko buku itu, menanyakan buku-buku apa yang paling laris.  Semua yang saya lakukan itu bahasa resminya Riset.  Kita memang harus riset pasar, belajar menganalisa topik apa yang pasar mau beli.   Anda bisa mencoba menanyakan ke teman-teman Anda di BBM List Anda, tanyakan topik apa yang mereka sukai.

 

6. Anda Sudah mencoba, Tetapi Outline Anda Tidak Pernah Cukup Memadai

Saya jarang membuat outline dan buku saya selalu selesai. Jika Outline itu justru membuat Anda terhambat, jangan membuat outline!  Terkadang saya memang membuat daftar isi terlebih dulu, atau mind mapping kira-kira struktur buku Saya seperti apa, tetapi malah menghabiskan waktu membuat struktur dan daftar isi karena Saya tidak pernah puas dengannya!

Langsung saja menulis, lupakan Outline.  Buatlah satu judul kecil diatas setiap paragraph Anda, lalu mulai menulis.  Teknik ini seperti membuat mata rantai terlebih dahulu, atau membuat part kecil dari puzzle yang hendak Anda satukan.  Sebenarnya pikiran bawah sadar Anda sudah memiliki big picture nya, tetapi pikiran sadar Anda yang belum memilikinya.  Dimana nanti bagian ini dan bagian itu diletakkan dipikirkan nanti, disusun nanti.  Jadi, tulis saja!  Teknik ini sangat berguna jika Anda menuliskan buku non fiksi, karena memodifikasi koneksinya jauh lebih mudah.  Berbeda dengan menuliskan Novel.

Ketika Menuliskan Novel Saya “Cinta Seorang Nymphomaniac” (Publish di Scoop), saya sampai membuka beberapa lembar Word untuk membaca ulang-ulang setiap part, kemudian membuat hyperlink untuk memudahkan Saya melompat-lompat. Menulis Novel memiliki tantangannya sendiri dan teknik yang berbeda.  Akan tetapi buat saya, Outline tertulis tidak harus ada karena saya sudah punya di mental picture saya.

 

7. Anda Tidak Percaya Anda Punya Talenta Yang Cukup Untuk Menulis Sebuah Buku

Saya menuliskan buku “13 Jurus Rahasia Teknik Vokal” yang menjadi best seller nasional, dibeli oleh guru-guru vocal, penyanyi dan musisi dan dari riset saya, Anda memang membutuhkan talenta jika Anda mau belajar menyanyi karena memang menyanyi membutuhkan nada, tempo dan harmoni yang bisa diukur akurasi dan presisinya.  Tanpa talenta, Anda akan membutuhkan effort jauh lebih keras dibanding mereka yang bertalenta.

Tetapi berbicara menulis adalah sesuatu yang berbeda.  Menulis hanya membutuhkan sangat sedikit talenta atau bahkan tidak dibutuhkan.  Tidak ada talenta berbicara karena semua orang bisa berbicara, begitu juga dengan menulis.  Yang Anda butuhkan adalah Ide yang menjadi solusi dari sebuah permasalahan.  Cobalah jelaskan ide itu pada siapapun sampai dia mengerti dan berhasil mengatasi permasalahannya, lalu tuliskan prosesnya menjadi sebuah buku.

Ketika saya menjadi juara menulis, saya berpikir saya punya talenta menulis.  Tapi ternyata 3 naskah cerpen saya berikutnya ditolak beberapa majalah. Apakah berarti talenta menulis saya menyusut atau kurang berkualitas? Saya tidak menyerah berlatih menulis lagi, tetapi kemudian 1 buku dan 1 novel saya juga ditolak penerbit. Apakah saya makin bodoh? Tidak.  Semuanya kecil sekali hubungannya dengan talenta. Bagian terbesar yang saya sadari adalah teknik penulisan dan kecocokan dengan sudut pandang penerbit. Berita baiknya, itu semua bisa dipelajari!

Penerbit dan Penulis sama-sama tidak punya rumus pasti buku seperti apa yang laku dijual, dan itu semua terlalu kecil hubungannya dengan talenta. Naskah Harry Potter karya JK Rowling ditolak berkali-kali bukan karena kualitas novelnya jelek, tetapi karena penerbit yang menolak yang tidak menduga pasar akan menyukainya.

 

8. Anda Tidak Punya Motivasi Yang Cukup Untuk Menulis Sebuah Buku

Setiap orang memiliki sumber motivasinya masing-masing, dan itu bisa apa saja.  Saya selalu termotivasi oleh rasa cinta saya pada Tuhan, orang tua dan pasangan.  Saya ingin membahagiakan mereka dan buku-buku adalah karya saya untuk mereka.  Tetapi walaupun Motivasi saya kuat, saya menghadapi mood yang naik turun. Saat api mood saya meredup, saya membutuhkan stimulus.  Beribadah sangat membantu saya, kemudian berjalan-jalan ke toko buku, melihat deretan buku-buku bagus yang sudah terbit, juga membantu meningkatkan mood saya. Mengikuti seminar, mendengarkan para pembicara hebat berbicara juga membantu saya. Saya sering juga go online, mendengarkan para pembicara hebat mengemukakan ide-ide brilian mereka.

Motivasi dan Mood Booster Anda bisa jadi sangat berbeda dengan Saya. Mungkin Anda harus traveling ke luar kota yang sepi, ke puncak bukit yang dingin dan mulai menulis.  Mungkin Anda cukup datang ke Coffee Shop favorit Anda, membuka laptop Anda dan mulai menulis ditemani segelas black coffee. Kenali sumber motivasi dan mood booster Anda.  Hindari apapun yang membuat mood Anda turun.

Hobi Saya membaca apapun terkadang merugikan.  Saya bisa tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca artikel demi artikel, berita demi berita.  Kadang artikelnya bagus dan berguna, kadang bagus tetapi tidak berguna,  kadang tidak bagus tetapi berguna dan terkadang artikelnya tidak bagus dan tidak berguna! Karena sudah menghabiskan waktu untuk membaca yang tidak berguna-berguna itu, pikiran saya terdistorsi, ga fokus dan sering juga mengganggu mood saya. Maunya fokus dan bersemangat, malah sedih karena habis baca artikel pembunuhan! Fiuh..

 

9.Anda Tidak Punya Strategi Untuk Sukses Menulis Buku Anda

Ketika saya membicarakan “Tulis Saja!”, bukan berarti tanpa strategi.  Strategi bukanlah kata pengganti “Rumus”, karena saya merasa menulis tidak perlu rumus dan tidak ada rumus pasti sukses menulis.  Strategi lebih kearah seni pendekatan personal.  Setiap orang bisa menemukan strateginya masing-masing.  Jika ada dua team sepakbola bertanding, setiap Manajer memiliki strategi yang dinamis, disesuaikan kondisi di lapangan.  Memiliki strategi tidak menjamin Anda memenangkan pertandingan, tetapi memiliki Strategi, membuat pekerjaan Anda jauh lebih efektif dan efisien.

Jika Anda berkata Anda tidak butuh strategi karena pernah terbukti berhasil tanpa strategi, maka itu kebetulan.  Jika kebetulan itu terulang berkali-kali dan selalu sukses, Anda sudah menciptakan strategi Anda sendiri walaupun Anda menolak menyebutnya sebagai Strategi.  Saya akan membagikan salah satu strategi Saya sekarang.  Strategi ini adalah “5 Pertanyaan Mengapa”.  Suatu ketika  Saya berbicara dengan seorang tukang becak.

Saya tanyakan:  Pak, mengapa bapak memilih profesi bapak yang sekarang.  Jika dia menjawab, “Karena saya tidak punya keahlian, makanya saya jadi tukang becak saja.”  Saya akan tanyakan, “Mengapa tidak punya keahlian?”  bapak itu menjawab, “karena saya bodoh, tidak makan sekolah..”.  Saya tanyakan lagi, “Mengapa tidak sekolah?” jawabnya, “karena orang tua dulu tidak bisa membiayai”.  Saya tanyakan yang ke empat, “mengapa kok orang tua dulu tidak bisa membiayai, Pak?” jawabnya, “ya karena miskin.. tidak punya uang..”.  Akhirnya pertanyaan kelima saya, “Kok bisa miskin kenapa ya pak?”.  Bapak itu tertawa dan dengan santai berkata, “Ya memang nasibnya..”

Dari percakapan sederhana itu, saya bisa menulis tentang profesi tukang becak, keahlian, sekolah, orang tua miskin dan nasib..”

 

10. Anda Terus Berhadapan Dengan ‘Writers Block’

Writers Block adalah alasan yang asal-asalan!  Penulis-penulis ketika tidak tahu mau menulis apa, mulai menciptakan alasan sebagai pembenaran untuk “hari ini bukan hari baik untuk saya menulis” atau “just not today, hopefully tomorrow..”.

Writer’s Block bisa dihasilkan dari planning yang buruk, tidak adanya deadline atau motivasi yang gembos.   Ketika Anda menemukan alasan yang bagus untuk menunda menulis hari ini, itu adalah writer’s block.  Jika Anda sudah berkomitmen menulis, walau hanya 5 menit, menulislah setiap hari.  Begitu Anda ‘bolos’ satu hari, Anda akan punya excuse untuk bolos satu hari lagi.

 

11. Anda Tidak Punya Starting Point Untuk Memulai Menulis Buku

Memulai menulis buku tidak sesulit itu, bahkan sangat mudah.  Ada begitu banyak starting point, yang sebenarnya tersedia disekitar Anda saat ini.  Cara termudahnya, Selalu mulailah dari point yang menarik dari naskah Anda.  Gunakan teknik yang dilakukan para juri Miss Universe, pilih 10 peserta terbaik, lalu ambil 5, ambil 3 dan terakhir pilih 1.

Jangan terlalu banyak berpikir.  Langsung Sajaaaaaa…

Wanita, Kurus, Rok, Putih, Bunga, Seksi, Cantik, Restaurant, Steak, Hujan.

 

Ketik 10 kata paling menarik yang sesuai dengan topik Anda, misal:

Wanita, Putih, Bunga, Cantik, Steak

 

Pilih 5, misalnya:

Wanita, Cantik, Bunga

 

Pilih 3, misalnya:

CANTIK

 

Akhirnya pilih: Cantik

Setelah mendapatkannya, starting point Anda berarti adalah Cantik.  Mulailah dari Sana. Anda bisa menggunakan pertanyaan-pertanyaan Apakah Cantik itu?  Bagaimanakah Cantik itu?  Haruskah Cantik itu? Dimana Ada Cantik Itu?  Kapan Cantik itu Ada?  Misalnya Saya langsung menuliskan begini,

“Cantik itu ketika aku lelah sepulang kerja dan kamu menyambutku dengan senyum lalu memelukku.  Cantik itu ketika aku mulai menceritakan betapa menjengkelkannya Bosku ketika marah, kamu mendengarkanku dengan penuh perhatian lalu berbisik, sabar ya sayang..”

 

12. Anda Tidak Punya Finishing Point

Finishing point adalah solusi lengkap dari problem yang Anda ajukan di awal buku.  Solusi bisa jadi sebuah inspirasi, sebuah kesenangan, sebuah metode, prinsip-prinsip atau apapun.  Ketika Anda menjanjikan 5 Step For Loosing 10kg’s Weight In 30 Days, maka 5 Step itu harus sudah dijelaskan semua dan meyakinkan pembaca untuk menjalani dan meraihnya dalam 30 hari.  Pembaca yang memiliki latar belakang sangat bervariasi akan mengajukan sangat banyak pertanyaan, karena itu semakin fokus buku Anda, semakin baik, karena pertanyaan yang muncul tidak akan terlalu lebar.  Buku yang baik tidak mengobral banyak janji atau banyak ide, tetapi kesulitan menjawab efek samping dari pertanyaan-pertanyaan dipikiran pembaca.

Ketika Anda mulai menulis buku, pastikah Anda tahu tujuan Anda, tempat Anda berhenti menulis.  Finishing Point ini membuat Anda tahu kapan harus berhenti menulis dan kapan beristirahat sejak, lalu melanjutkan menulis. Sebagai Pilot, Anda harus tahu dimana bandara tujuan Anda, supaya Anda tahu dimana Anda harus mendarat.  Ada banyak penulis yang tidak tahu kapan harus berhenti.  Mereka tidak percaya diri untuk mengakhiri tulisan mereka dan akhirnya mengulang-ulang hal-hal yang sebenarnya sudah mereka tulis dengan baik.  Dibanding berusaha meyakinkan pembaca dengan tulisan berulang-ulang, sebaiknya Anda berusaha meyakinkan diri Anda sendiri bahwa sudah waktunya Anda mendarat.

 

13. Anda Terjebak Dalam Research

Banyak penulis pemula terjebak dalam pemikiran ‘riset saya belum cukup’.  Karena pemikiran itu mereka tidak kunjung menulis atau apa yang mereka mulai tulis tidak segera selesai.  Pemikiran seperti itu salah karena seberapapun banyaknya riset Anda, pemikiran seperti itu bisa saja muncul lagi. Anda meneliti sesuatu yang mari kita sebut “A”, kemudian membuka pintu baru, menemukan data baru  “B” dan kemudian berpikir untuk meneliti “B”.  Begitu seterusnya, muncul “C”, “D” dan akhirnya Anda terjebak dalam lingkaran riset tanpa ujung.

Banyak orang melakukan riset tetapi tidak tahu apa yang mereka cari dan akibatnya apapun yang mereka temukan menjadi mungkin. Tulislah buku yang Anda sudah tahu banyak sehingga meminimkan riset.  Jika Anda belum tahu banyak, yakinkan diri Anda bahwa banyak riset tidak dibutuhkan.

 

14. Anda Seorang Perfectionist

Menjadi seorang perfectionist sangat berguna dalam menjaga kualitas buku, tetapi bisa merugikan ketika perfectionist itu justru membuat buku Anda tidak selesai-selesai.  Buat para perfectionist, menghabiskan waktu lama tidak masalah, asal kualitas bagus.  Tetapi seberapa baguskah ‘bagus’ itu?  Fakta tentang seorang perfectionist adalah dia bukan berusaha menulis buku yang disukai semua orang – karena kita tidak mungkin menyenangkan 100% pembaca, tetapi buku yang disukai dirinya sendiri.  Buku yang perfect menurut si A, bisa jadi hanya bernilai 50 untuk si B.  Ketika Anda mempertahankan sifat perfectionist Anda dan berjuang menghasilkan buku terbaik yang bisa Anda hasilkan, buku itu akan tetap banyak kesalahan dimata orang lain.

Saya tidak sedang berusaha membuat Anda menurunkan kualitas Anda, karena saya sendiri dulu seorang perfectionist yang sekarang menyukai almost perfect dalam segala sesuatu.  ]

 

Ketidak sempurnaan dalam Menulis buku itu sempurna

 

Ketidak sempurnaan menyediakan space untuk sisi kemanusiaan kita.  Ada ruang untuk diskusi, ada ruang itu bersahabat, ada ruang untuk belajar lebih baik dan mengajar lebih baik.  Ada ruang untuk kita terus menerus bermimpi, membuat visi dan misi yang baru.

 

15. Anda Tidak Tahu Apa Yang Pembaca Inginkan

Jika Anda berharap Saya tahu apa yang pembaca inginkan, jawaban saya: TIDAK.  Jika keinginan pembaca semudah itu diketahui, semua buku akan laku keras. Ketika saya sedang berusaha menjawab pertanyaan ini, saya mencoba membalikkan pertanyaan menjadi, “Apakah saya sebagai pembaca, tahu apa yang saya inginkan?”  jawabannya ternyata sama: TIDAK.

Kita memang harus menuliskan buku yang berisi jawaban dari sebuah pertanyaan atau  Solusi dari masalah. Tetapi pertanyaan yang mana? Masalah apa? Kita hanya bisa menebak-nebaknya.

Saya seringkali ke toko buku tanpa tahu apa yang saya ingin beli. Saya hobi membaca, tetapi saya sendiri belum tahu saya ingin membaca apa lagi.  Banyak buku baru yang tidak orisinil sehingga pesannya sama dengan buku-buku saya yang lain, jadi saya abaikan.  Beberapa buku diluar dugaan menjanjikan isi yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan.  Saya terkesima membaca sinopsisnya, tiba-tiba menginginkannya, lalu memutuskan membelinya.  Jadi mari kita tulis buku yang menurut kita Pembaca membutuhkannya, tulis saja, lalu tawarkan.

 

Ronee Paul

www.topendology.com

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *