Attitude Seorang Penulis

Chapter 4. (Dari Buku “Bagaimana Menulis Buku Kreatif Dalam 14 Hari Atau Kurang by Ronee Paul)

Anda harus memiliki Attitude seorang penulis.  Saya tidak akan menulis panjang lebar tentang Writer’s Mindset, karena bisa membuat Anda bosan membacanya. Saya juga tidak merasa perlu memotivasi Anda, karena Saya tahu Anda bisa jika Anda mau. Mari kita mempersingkatnya.

 

Satu. Semua Penulis Suka Membaca

Demikian pula saya – lahir di keluarga sederhana, Papi Mami saya tidak bisa membelikan saya mainan elektronik yang mahal.  Yang mereka mampu belikan adalah buku.  Karena kami tidak punya mobil pribadi, kami seringkali harus naik Kereta Api jika ingin keluar kota dan hebatnya, di setiap Stasiun Kereta Api selalu ada satu kios buku!  Kios buku selalu menjadi tempat favorit Saya sejak kecil.  Ada hasrat menggebu setiap kali saya melihat tumpukan buku-buku itu.  Saya ingin membaca semuanya!

Saya pernah dibelikan Papi Mami dua majalah edisi terbaru Bobo dan Ananda, tetapi karena kecerobohan saya, salah satunya terbang melayang keluar dari Jendela Kereta Api yang sedang melaju kencang.  Momen menyedihkan itu teringat sampai hari ini, 25 tahun kemudian!  Sejak SD saya keranjingan berkunjung ke tempat persewaan buku.  Pulang sekolah, tas selalu penuh komik atau novel yang saya sewa. Saya bisa menahan diri beli aneka jajanan di kantin, tapi saya tidak pernah bisa menahan diri menyewa buku, komik, majalah dan sejenisnya.

Sampai akhirnya saya memenangi lomba menulis.  Juara 1 Nasional dari Majalah Mentari Putera Harapan.  Hadiahnya Rp.200.000 waktu itu, tahun 1990.  Masuk SMU, saya mencoba mengirim beberapa cerpen ke beberapa majalah remaja, tetapi selalu ditolak.  Tidak pernah dimuat! Setelah cerpen, saya beralih ke buku cara bermain piano, di tolak juga oleh Gramedia. Mengapa ditolak? Karena saya cuma menulis, tanpa pernah membaca buku cara bermain piano yang pernah diterbitkan.  Bisa dikatakan, sebenarnya Saya tidak tahu bagaimana seharusnya buku piano ditulis.

Setelah itu 2 buku berikutnya ditolak lagi oleh 2 penerbit yang lain, akhirnya buku ke 4, diterima Gramedia.  Judulnya “Canggih Bermusik Dengan Komputer”.  Diterimanya buku itu membuat kepercayaan diri saya meroket.  Satu hari, seorang pemilik penerbitan di Yogyakarta menelpon saya, dan meminta saya menulis sebuah novel tentang boyband, Smash Band.   Saya yang tidak tahu apa-apa berpikir itu band korea. Haha..  tetapi syaratnya, naskah 100 halaman harus jadi dalam 2 minggu!   Saya meminta kelonggaran naskah jadi dalam 1 bulan, tetapi ditolak.

Singkat cerita, dalam 10 hari ternyata naskah bisa saya selesaikan.  1 bulan kemudian buku sudah masuk Gramedia dan toko buku rekanannya!  Pengalaman itu membuat saya belajar banyak, tentang bagaimana menulis buku.  Saya makin mengerti ‘apa sih maunya penerbit’ dan format penulisan yang layak diterbitkan.

Semua penulis harus banyak membaca. Itu Attitude yang terutama.  Baik itu membaca buku atau membaca kejadian sehari-hari.  Dijaman  internet mudah dan murah ini, kita bisa mendapatkan bacaan gratis kapanpun dimanapun, pintar-pintarnya kita memilah dan memilih.  Bacaan ringan, berat, semua tersedia di berbagai disiplin ilmu. Dengan banyak membaca, wawasan kita terbuka luas, ketika kita menulis buku, semua wawasan yang pernah kita baca itu akan bermunculan di memori kita, membantu akselerasi penulisan kita.

Jika Anda kurang suka membaca dan lebih banyak mengantuk ketika membaca, Anda bisa memodifikasinya, Anda bisa mencari audio books,  rekaman pembicara-pembicara hebat.  Anda bisa ‘membaca’ dengan telinga Anda.  Anda juga bisa banyak bertanya pada orang-orang yang hebat di bidangnya. Gali informasi sebanyak mungkin, lalu rekam dengan suara Anda sendiri di handphone, baru tuliskan.

Membaca adalah writer’s attitude.  Jika Anda adalah pendengar yang baik, Anda bisa menjadi pembicara yang baik karena wawasan Anda luas.  Jika Anda pembaca yang baik, Anda sangat berpotensi menjadi penulis yang baik.  Saya membaca buku minimal 1 buku setiap bulan, dan ratusan artikel setiap bulannya, karena setiap ada waktu senggang, saya online  dan membaca!

 

Dua. Menulis Secepat Mungkin – Tetapkan Deadline

Attitude kedua adalah displin. Tetapkan deadline dan menulislah secepatnya. Fokus dan disiplin setiap hari investasikan waktu Anda1-2 jam.  Saran saya, cari waktu dimana Anda sedang benar-benar Fresh untuk menulis.  Jangan menunggu waktu sisa, tetapi sediakan waktu khusus.  Paksa diri Anda untuk menulis jika writers block dan mood sedang menghambat.

 

Tiga. Bawa Catatan / Handphone Dimanapun Anda Berada

Fasilitas Memo dan voice recorder sangat berguna.  Seringkali saya mendapatkan ide ketika sedang menyetir mobil, dan langsung saya rekam di handphone.  Dengan merekamnya, saya bisa mengatakan apapun dengan gaya saya yang orisinil, kemudian setibanya di ruang kerja, saya tinggal menuliskan ulang persis seperti apa yang saya rekam.

Banyak kejadian yang bisa kita temukan ketika kita sedang keluar rumah dan kejadian-kejadian itu bisa menjadi cerita yang menarik, menginspirasi orang lain ketika kita menuliskannya.  Kejadian apapun bisa menjadi pemicu tulisan yang baik. Suatu hari saya melihat seorang ibu dengan dua orang anaknya berdiri di depan Alfamart.  Saya pikir mereka habis belanja, tetapi ternyata ibu itu menghampiri saya dan menawarkan satu kresek berisi beras.

“Pak tolong dibeli, buat bayar alat tulis anak-anak saya ini..” katanya.  Seorang ibu yang mau berjuang untuk anaknya.  Saya mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu lalu memberikannya, “Ini Bu.. belikan alat-alat tulis yang bagus ya buat anak-anaknya..”

Kejadian itu bisa menjadi cerita dan saya tulis di buku ini.  Cerita yang sederhana, tetapi bisa menginspirasi banyak orang tentang perjuangan seorang ibu.

 

Empat. Pelajari Resep Buku Yang Anda Suka

Jika Ada satu dua buku yang Anda sukai, amati formatnya.  Pelajari detilnya.  Berapa banyak jumlah kata disetiap paragraph, ada berapa halaman ditiap bab, bagaimana komposisi isinya, apakah selalu mengandung hasil riset atau tidak.  Apakah selalu mengandung ilustrasi cerita atau tidak, bagaimana gaya bahasanya dan lain-lain.  Jadikan buku yang Anda sukai sebagai referensi, sebagai resep buku Anda sendiri nantinya. Anda boleh kok “ATM”, Amati Tiru Modifikasi.

 

Ronee Paul

www.topendology.com

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *