Bagaimana Membuat Karakter Fiksi Anda Menjadi Hidup

CHAPTER 11.  (Dari Buku “Bagaimana Menulis Buku Kreatif dalam 14 Hari atau Kurang by Ronee Paul”

Menciptakan karakter yang hidup adalah tantangan besar untuk setiap penulis fiksi, karena karakter yang hidup membuat pembaca terikat emosinya.  Seringkali penulis melakukan kesalahan yang tidak disadarinya karena menciptakan karakter tanpa pengetahuan akan ‘karakter’ itu sendiri.  Penulis-penulis tersebut menciptakan karakter sesuai imajinasinya, terkadang berhasil, namun seringkali gagal.

 

Dinda adalah teman sekampusku, seorang gadis ceria berusia 20 tahun. Karena keceriaannya, Dinda memiliki banyak kawan. Tidak hanya ceria, dia easy going, apa adanya dan menyenangkan! Semua orang menyukainya, tidak terkecuali aku.  Aku sudah mengenalnya 3 tahun ini dan sejujurnya aku menyukainya lebih dari seorang kawan.  Suatu hari sepulang dari kuliah, aku melihat mobil Dinda di parkiran.  Tiba-tiba muncul ide di benakku, mengapa tidak aku mencoba menjadi secret admirer nya?  Buru-buru kutulis disecarik kertas sebuah kata, “Dinda, kamu cantik dan menarik.. boleh aku mengenalmu lebih dekat?”   Rencanaku, kertas itu akan kutempelkan di kaca mobil depannya, jadi sewaktu-waktu Dinda pulang, dia akan menemukan secarik kertas ini.    Perlahan-lahan aku mendekati mobilnya dan aku terkejut, ternyata Dinda ada di dalam mobilnya! Rupanya Dinda melihatku dan melambaikan tangannya padaku. “hai Dinda.. kok di mobil sedirian?” tanyaku.  Dia membuka kaca jendelanya.  “Iya nih Ken, aku lagi menunggu seseorang..”  jawabnya.  “Menunggu pacarmu?” tanyaku sambil berharap jawaban ‘aku masih single’.  Aku berjalan mendekatinya dan sekarang aku berdiri tepat disampingnya.  “iya Ken. Aku benci banget dengannya, sudah 3 bulan ini aku merencanakan balas dendam. Dia diam-diam pacaran dengan Siski dan aku menahan diri selama ini untuk hari ini, akan kubuat malu dia!” kata Dinda berapi-api.  Aku terkejut. “yang bener Din?” tanyaku.  “Siapa pacarmu, siapa pula si Siski? Mau mempermalukan gimana?”

 

Ketika membaca paragraph diatas, Saya membangun karakter Dinda yang: ceria, easy going, apa adanya dan menyenangkan. Akan tetapi, gambaran karakter ini tiba-tiba ‘rusak’ oleh pengakuannya membenci pacarnya, sudah merencanakan balas dendam selama 3 bulan.  Tipe seperti Dinda secara sederhana, tidak mungkin sanggup merencanakan balas dendam selama 3 bulan karena pacarnya selingkuh! Dinda tipe easy going dan apa adanya, jadi untuk apa menunggu 3 bulan? Tipe seperti Dinda, lebih cocok langsung melabrak pacarnya ketika ketahuan selingkuh.  Kecuali Saya sebagai penulis ingin menulis karakter sekunder Dinda yang ternyata pendendam dan memiliki penyimpangan perilaku, maka karakter Dinda di tulisan saya diatas, tidak konsisten.

Karakter By Remodeling Dan Personality Theory

Karakter yang diciptakan berdasarkan remodeling  tokoh real bisa dipastikan jauh lebih berhasil dibandingkan dengan berkhayal.  Jika anda punya teman baik bernama Diana, lalu Anda menuliskan tokoh bernama Deasy berdasarkan pengamatan Anda terhadap Diana, teknik ini jauh lebih efektif dibandingkan Anda menciptakan karakter Deasy lalu mencoba menuliskan detil karakternya hanya berdasarkan imajinasi Anda.  Saya akan jelaskan dimana kesalahannya.

Amati siapa Deasy, bagaimana dia bergaul, bagaimana dia berbicara, bagaimana dia bercanda, bagaimana dia ketika marah, bagaimana dia ketika membuat rencana, bagaimana ketika dia bekerja, semuanya perlu Anda amati, jika karakter Deasy ini benar-benar penting di buku Anda.

Di dunia psychoanalysis khususnya personality reading yang saya pelajari dan sudah Saya tulis bukunya dengan judul “Mastering Practical Personality Reading”, kita bisa membaca karakter seseorang, dalam hal sumber energinya, pengambilan keputusan, caranya berkomunikasi, caranya membuat rencana, bagaimana sikapnya terhadap uang, cinta, maaf, dan bahkan membaca tipe-tipe yang berpotensi menjadi trouble maker.   Bahkan seseorang yang memiliki karisma pun, bisa kita pelajari seperti apa ciri-cirinya.

Berdasarkan personality theories itulah, setiap karakter di karya fiksi bisa diketahui apakah benar atau salah.  Contohnya, Jika Anda menciptakan karakter bernama Pedro, yang Anda inginkan menjadi pribadi berkarisma tinggi, tetapi dalam penulisan sifat-sifatnya, Anda mendeskripsikannya sebagai seorang yang sangat banyak bicara, sangat lucu dan sangat tegas sekaligus sangat romantis, that’s simply impossible!   Mungkin itu adalah preferensi Anda pribadi, menganggap pria seperti itu berkarisma buat Anda, but its not.  Pembaca akan gagal merasakan apa yang Anda ingin sampaikan karena buat pembaca, karakter seperti itu bukan karakter yang berkarisma tinggi.

Jika Anda menciptakan karakter bernama “Gaby”, kemudian Anda bermaksud menjadikannya seorang yang moody, perfectionist, boros, sangat pemaaf, dan tidak suka hal-hal ribet karena lebih suka mengambil gambar besar suatu masalah, maka karakter Gaby akan sulit diterima pembaca.  Why?   Karena di dunia real, kemungkinan ada karakter seperti Gaby sangat kecil.  Bertentangan dengan Personality Theories.

Pembaca menginginkan karakter yang real, yang hidup, yang mewakili mereka.  “Wah, si Angie ini mirip banget denganku.. “  atau “Wah, si Jacky itu benar-benar cowok yang gue mau!”.  Fakta menarik adalah karakter real ini tidak harus untuk karakter protagonist Anda.  Karakter Antagonis yang diciptakan dengan hebat juga mewakili pembaca dan akan disukai pembaca.  Draco Malfoy, salah satu karakter antagonis ciptaan JK.Rowling untuk Harry Potter memiliki banyak sekali fans sampai-sampai JK.Rowling sendiri keheranan.

Kecuali Anda memang ingin membuat karakter ‘Alien’ yang membingungkan dan benar-benar tidak akan ada di dunia nyata plus Anda tidak peduli apakah pembaca suka atau tidak, sebaiknya Anda serius mempelajari Personality Theories, untuk membuat karakter fiksi Anda hidup dan menjadi Real.

 

Ronee Paul

Penulis Novel “Cinta Seorang Nymphomaniac” published by Scoop (digital book).

www.topendology.com

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *