Culture Shock

Salah satu sisi lain dari Culture Shock adalah beberapa orang mudah terpengaruh budaya lain yang dianggapnya lebih keren. Seseorang penggemar film Korea, tiba-tiba bermake up ala Korea, pilihan fashion nya juga selalu ala Korea. Orang-orang ini bisa jadi suatu saat berubah lagi budayanya, tergantung apa yang disukainya pada suatu saat.  Tipe ini sangat adaptatif, tetapi tetap akan mengalami guncangan perbedaan budaya ketika menikah, karena pernikahan bukan hanya soal fashion dan make up.

Sementara beberapa orang yang lain, sangat membanggakan kebudayaannya asalnya.  Tipe ini lebih ”kaku”. Mereka mempertahankan dengan kuat apa yang diajarkan orang tua dan lingkungannya.   Ketika tipe yang adaptatif dan tipe yang kuat berpasangan, biasanya tipe yang adaptatif yang lebih menyesuaikan diri, masuk ke budaya pasangannya yang lebih ”kaku”.

Menjadi menarik ketika dua orang yang sama-sama kuat dalam menjaga tradisi kebudayaannya kemudian berpasangan. Di situasi ini,  benturan perbedaan budaya adalah hal yang sangat wajar.  Butuh waktu lebih lama bagi mereka untuk berproses.

Budaya adalah semacam kebiasaan yang sudah tertanam dalam pikiran bawah sadar. Seseorang yang sudah sedemian nyaman dengan kebiasaan di keluarganya, tiba-tiba harus belajar menyesuaikan diri dengan seseorang lain yang juga sudah sangat nyaman dengan kebiasaannya sendiri di keluarga.  Ini seperti menyatukan Batman dengan Wonder Woman.

Dari cara  menata rumah, cara mengatur keuangan, sering kumpul-kumpul keluarga  atau jarang, ulang tahun dirayakan atau tidak (diberi kado atau hanya makan-makan), jam tidur, lampu menyala atau mati ketika tidur, menerima fengshui atau tidak, menerima hari baik atau tidak, wanita boleh bekerja atau tidak, rekening bank masing-masing atau jadi satu, siapa yang memberi nama anak, memelihara hewan atau tidak, dan sangat banyak hal lain (bisa ribuan detil), dua orang yang berbeda budaya butuh menyesuaikan diri dan membuat kesepakatan-kesepakatan.

Kuncinya adalah komunikasi. Jujur menyampaikan pendapat dan harus belajar melihat dari ”sudut pandangnya”, bukan ”sudut pandang saya” saja. Perdebatan itu biasa, asal jangan mudah terpancing emosi. Bicarakan baik-baik dan temukan solusi yang bisa disepakati bersama.  Kunci tersebut sepertinya mudah tetapi sungguh sulit mempraktekkan ”jujur” dan ”menerima sudut pandangnya.”  Dibutuhkan proses bertahun-tahun untuk memadukan dua kebudayaan yang berbeda.

 

Ronee Paul

www.topendology.com

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *