Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

Sebagai seorang psikoterapis, Saya menangani beberapa kasus KDRT. Tidak selalu wanita yang menjadi korban. Ada juga lho, pria yang jadi korban.  Yang saya bahas disini adalah pencegahannya.

Secara umum, KDRT ada dua, kekerasan fisik dan verbal. Kekerasan fisik berarti terjadi kontak fisik yang melukai. Bisa luka lebam, maupun luka terbuka. Kekerasan verbal berarti terjadi pengucapan kalimat-kalimat yang menghina, melecehkan, mengancam, menjatuhkan harga diri, menghakimi dan ucapan-ucapan lain dengan nada membentak, tajam, sinis dan lain-lain yang bisa menghancurkan mental dan perasaan seseorang. Kekerasan fisik bisa mengakibatkan luka parah dan kematian, sedangkan kekerasan verbal bisa mengakibatkan luka batin yang teramat parah atau bahkan kematian jiwa.

Problem yang harus kita sadari adalah KDRT mayoritas terjadi setelah hubungan dalam jangka waktu yang panjang dan sudah masuk dalam ikatan pernikahan.  Ini seperti seseorang yang ketahuan aslinya setelah jangka waktu tertentu.  Walaupun sulit ditebak, tetapi setidaknya kita bisa berjaga-jaga dan meminimalkan resikonya. Kita bisa belajar dari faktor resikonya.

  1. Punya karakter dominan. Tidak mau mengalah, ingin selalu menguasai keadaan dan menjadi pusat perhatian.
  2. Selalu merasa paling benar. Selalu menemukan alasan kenapa dia yang benar dan kenapa orang lain yang lebih salah.
  3. Tidak suka mendengarkan pendapat orang lain. Tidak betah nonton film, baca buku, atau mendengarkan orang lain berbicara dalam jangka waktu cukup lama.
  4. Bertemperamen tinggi. Mudah marah. Bisa terlihat dari perilakunya di jalan raya atau dalam perdebatan dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Pernah mengalami KDRT di masa kecilnya. Mungkin ibunya pernah menjadi korban KDRT ayahnya, atau dirinya sendiri yang mengalami.
  6. Tinggal di lingkungan dengan pengaruh kekerasan yang kuat. Misalnya tinggal dalam lingkungan pendidikan tentara/polisi/perguruan bela diri yang keras, atau di kampung/pasar yang ramai, yang sehari-hari terjadi perkelahian.
  7. Dalam diskusi terdengar menyetujui tindakan kekerasan untuk menghukum pelaku kejahatan yang tertangkap.
  8. Ketika terlibat konflik, dia beberapa kali mengeluarkan ancaman memukul, menusuk, membunuh dan sebagainya. Jika dia sering mengucapkannya, itu bisa mempengaruhi otaknya. Bisa terwujud ketika situasi memaksanya.

 

Ronee Paul

www.topendology.com

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *