Roh Kudus Sebagai Pusat Formasi Spiritual

Materi yang Pak Stevry sebagai dosen pengampu berikan tentang doktrin kedaulatan Allah dan kaitannya dengan formasi spiritualitas diawali dengan tulisan John Calvin dan dilanjutkan dengan point-point yang bisa diambil dari tulisan John Calvin.  Kemudian penulis materi memberikan pandangannya:

 

Doktrin yang sehat adalah keharusan bagi orang Kristen. Berkenaan dengan

itu, ada tiga perubahan total yang mutlak, yaitu kesadaran (consciousness),

keyakinan (conviction) dan hati nurani (conscience). Ketiga unsur ini

adalah sangat vital bagi formasi dan pertumbuhan spiritualitas orang

Kristen. Ketiganya memperlihatkan suatu hubungan yang harmonis dan

benar antara doktrin dan kehidupan praktis orang Kristen.

 

Lebih jauh, penulis materi mengatakan,

 

Mempelajari hal di atas, akan menolong orang Kristen untuk

bertumbuh wajar sebagaimana kehendak Tuhan baginya. Semakin kita

mengenal Allah, mengenal kedaulatan-Nya dan hubungan kedaulatan Allah

dengan dunia ciptaan Allah, semakin kita mengenal dan megalami pribadi

Allah yang kita kenal tersebut. Selain itu, pengenalan yang demikian akan

membuat kita semakin percaya kepada-Nya dan semakin mengasihi Dia,

semakin hidup benar dan kudus, semakin memuji dan memuliakan Dia,

semakin rela untuk taat dan melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya.

Dengan kata lain, kita dapat mengatakan bahwa belajar tentang doktrin

kedaulatan Allah secara khusus, akan menjadikan kita semakin dewasa

sebagai orang Kristen.

 

Saya terganggu dengan kalimat “Mempelajari hal di atas, akan menolong orang Kristen untuk bertumbuh wajar sebagaimana kehendak Tuhan baginya.”  Dimana penekanannya adalah “mempelajari” dan “saya” yang mempelajari.  Tidak ada Roh Kudus disana.

Mengutip John Farrelly,

“The Holy Spirit is central to Christian spirituality and to any understanding of it. In

fact, the word spirituality reflects the realization that the Christian life is led in the power

and under the guidance of the Holy Spirit; it does not primarily designate this life as

dealing with the ‘spiritual,’ in the sense of ‘immaterial’ ” (Farrelly 1993: 492b).

 

Pandangan teologis saya tentang spiritualitas sangat menekankan peran Roh Kudus dalam kehidupan kita.

Robert David Hughes dalam bukunya the blackwell companion to Christian Spirituality berpendapat, Teologi spiritual sebagai teologi kehidupan spiritual memiliki Roh Kudus untuk subjek utamanya.

Saya tidak sedang berusaha meniadakan peran doktrin kedaulatan Tuhan, tetapi saya tidak sepakat bahwa “mempelajari doktrin” ditempatkan dibawah peran Roh Kudus.

Tampaknya Roh Kudus tidak beruntung di gereja-gereja barat.  Western Church banyak yang menolak Roh Kudus.

 

While the Eastern claim that all the blame lies at the door of Augustine’s doctrine of

the Holy Spirit’s double procession as the vinculum caritatis (bond of love) between the

Father and the Son (On the Trinity 15.27–31) may be too harsh a judgment on him, it

is not entirely wrong either (Bermejo 1989: 160ff). There are indeed strengths to the

Western position, as Macquarrie notes (1977: 331): a close link between Spirit and

Word, and hence between the mystical and the prophetic/ethical. A strong role for the

humanity of Christ emerges in Western spirituality, especially with the mendicants in

the thirteenth century. The Eastern tradition also has its own disastrous errors, notably

too great a distinction between the divine essence and the trinitarian relations (Jenson

1997: 149–53). Nevertheless, almost as an unintended consequence of Augustine’s

doctrine of double predestination and his use of the term “grace” in the anti-Pelagian

writings as something not quite the Holy Spirit herself, an increasing lack of explicit

pneumatology developed in Western theology; this resulted in a number of problems

and flaws in later theology of the spiritual life (Congar 1983, vol. 1: 159–66; Bermejo

1989: 160–7 and passim).

 

Merespon perlakuan Western Church terhadap Roh Kudus, Bermejo mengatakan, Kecenderungan Barat untuk memperlakukan Roh Kudus hanya sebagai vinculum caritatis antara Bapa dan Putra telah terlalu menekankan sifat Roh dengan mengesampingkan peran dalam kebajikan teologis lainnya.

Saya lebih setuju memprioritaskan peran Roh Kudus dalam kehidupan spiritual saya.  Dimensi pertama, Hubungan antara kita dan Yesus terutama merupakan hubungan fisik daging dengan daging. Kekebalan iman kita di dalam Yesus, yang disalibkan, diubah rupa, bangkit, dan dimuliakan, adalah melalui tubuh Yesus sebagai fokus Roh Kudus. Dengan sakramen, daging kita terhubung dengan tubuhnya, dan karenanya sifat manusiawi kita terhadapnya, dan dengan demikian misteri paskah yang merupakan sejarah daging itu, dan bahkan sampai kodrat ilahi karena persatuan hypostatic di dalam Dia.

Dimensi kedua, Berdiamnya Roh Kudus juga tidak berada dalam jiwa kita sendiri, atau hubungan dengan roh manusia kita.  Sebaliknya, seperti kata Paulus, Roh Kudus berdiam di dalam diri kita tubuh sebagai bait suci.  Ini adalah berdiam diri, diinisiasi dalam pembaptisan dan diberi makan dalam Ekaristi dan praksis spiritual (termasuk fisik), yang menghubungkan daging kita dengan daging Yesus, dan karenanya, melalui hipostatik persatuan, mengarah pada theosis (“divinisasi”) (Gregory Palamas 1983: 57-69).

Pada suatu sore, teman kost saya, Ferry Setiawan, dulu pemimpin pujian dan sekarang majelis di GKT, masuk ke kamar saya hendak meminjam komik.  Saya sedang bermain gitar dan memuji menyembah Tuhan ketika dia membuka pintu kamar.  Begitu masuk, dia rebah ke kasur dan menerima karunia bahasa Roh, tanpa saya menyentuhnya.  Saya membiarkannya menerima karunia itu dan berdoa bersamanya setelah dia selesai.  Persis minggu depannya, dia bersaksi di seluruh jemaat GKT tentang pengalamannnya menerima glosolalia.  Sejak saat itu, tidak ada lagi hari-hari perdebatan kami tentang Roh Kudus dan perannya dalam kehidupan kami sehari-hari.  Satu peristiwa di sore hari, mengubah selamanya cara pandangnya tentang Roh Kudus.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *