Liturgi dan Musik Gereja Pasca Reformasi

Oleh: Regina Femmi Mongkau

 PENDAHULUAN

Setelah reformasi, liturgi dalam gereja terus mengalami perkembangan. Setiap gereja membuat liturgi sesuai dengan kebutuhan dalam gerejanya masing-masing. Hal ini membuat gereja-gereja menganggap bahwa liturgi dalam gerejanya adalah yang paling benar.

Selain itu, musik dalam gereja juga menjadi persoalan. Ada gereja yang hanya mengunakan satu alat musik seperti piano atau organ agar suasana ibadah tetap tenang, namun ada juga gereja yang memanfaatkan beraneka-ragam alat musik agar suasana ibadahnnya tidak membosankan. Keadaan ini membuat jemaat yang bosan beribadah di gereja yang hanya menggunakan satu alat musik beralih kepada gereja yang memiliki banyak alat musik agar mendapatkan suasana yang baru dan begitu pula sebaliknya terjadi, tanpa memikirkan makna ibadah yang sesungguhnya.

Tujuan penulisan artikel ini menjawab pertanyaan sebagai berikut: Bagaimana sejarah liturgi dan musik gereja pasca reformasi? Bagaimana perkembangan liturgi dan musik gereja masa kini? Bagaimana bentuk-bentuk liturgi masa kini?

 

 

SEJARAH LITURGI DAN MUSIK GEREJA PASCA REFORMASI HINGGA SAAT INI

 

Liturgi Pasca Reformasi

Pada masa pasca reformasi, setiap gereja sibuk dengan persoalannya masing-masing sehingga tetap menggunakan liturgi “tambal sulam”. Hal ini terjadi karena gereja tidak serius dalam memperhatikan masalah liturgi. Liturgi sekarang khususnya dalam gereja-gereja Protestan kebanyakan adalah import dari gereja-gereja Barat yang tidak mengalami perubahan.[1]

Semangat reformasi di kalangan gereja-gereja Protestan pada akhirnya memunculkan begitu banyak aliran gereja dengan corak ibadah yang beraneka ragam. Di pihak Katolik Roma tidak banyak mengalami perubahan karena segala sesuatu yang berkaitan dengan ibadah (liturgi) harus mendapat persetujuan dari Paus di Roma, sedangkan di pihak Protestan muncul berbagai corak liturgi berdasarkan warna teologi atau aliran gereja. Aliran-aliran tersebut misalnya, Lutheran, Calvinis, Methodis, Baptis, Pantekosta dan lain sebagainya. Setiap aliran gereja terikat dengan tata gereja masing-masing yang di dalamnya memuat pedoman-pedoman tentang jemaat (liturgi).[2] Jadi pada masa ini, gereja-gereja Protestan sudah memiliki warna liturgi masing-masing sesuai dengan kebutuhan gerejanya.

 

Musik Gereja Pasca Reformasi

Masa ini adalah periode berkembangnya nyanyian dalam liturgi gereja, dengan memberikan penekanan yang khusus pada mazmur. Kelompok Luther menggunakan himne, mazmur, nyanyian rohani (spiritual song) dan nyanyian kelompok dari jemaat (part-singing) dengan menggunakan alat musik dalam batasan tertentu. Di pihak lain, kelompok Calvinis merupakan kebalikannya. Mereka menggunakan nyanyian mazmur bagi jemaat, tanpa organ dan alat musik lainnya, tanpa paduan suara dan tanpa nyanyian kelompok.[3]

Berikut ini adalah beberapa tokoh yang terkenal pada masa pasca reformasi: (1) Isaac Watts (1707 M). Ia memberikan dorongan baru bagi himne-himne gubahan manusia. Pada saat itu, gereja-gereja tidak mau mendengarkan nyanyian lain selain nyanyian mazmur Daud, tetapi Watts menggunakan “mazmur tiruan” (pengungkapan mazmur dengan cara lain), sebagai titik tolak dari nyanyian biasanya. Hal ini menyebabkan terbukanya jalan bagi himne-himne gubahan manusia,  namun gerej-gereja resmi di Inggris dan Skotlandia menetang keras hal tersebut. Dalam karyanya, Watts banyak menulis himne yang berkenaan dengan kemanusiaan Kristus dan dalam himne itu juga terdapat banyak nada sukacitanya; (2) Kaum Moravian. Kaum ini adalah umat Kristen yang pertama di Amerika Serikat yang mengizinkan penggunaan musik instrument dengan bebas di dalam kebaktian. Kaum ini adalah pengikut Johanes Huss (1722 M). Mereka banyak menggunakan biola, kecapi, clarinet, trombone, terompet dan seruling dalam kebaktian mereka; (3) John dan Charles Wesley (1737-1784 M). Pada tahun 1737, John Wesley, yang merupakan anggota gereja Anglikan dipanggil menghadap “Grand Juri” untuk menjawab tuduhan-tuduhan terhadap perubahan urutan liturgi dan perubahan nyanyian mazmur menjadi himne yang belum mendapat persetujuan dari dewan gereja yang berwenang. Pada tahun 1737-1784, telah terbit beberapa eksemplar dari “Collection of Psalm and Hymns” dan “First Anglican Hymnal” kemudian dijadikan sebagai “First Methodist Hymnal”. Wesley bersaudara menulis lebih dari 6000 himne yang berhubungan dengan topik-topik teologi meupun pengalaman hidup orang Kristen sehari-hari. Sekalipun masih mendapat tantangan dari gereja-gereja, namun gereja Baptis dan Peresbiterian (Calvin) yang bisa menerima himne, mulai menyanyikan himne-himne gubahan Watts. Kaum methodist lebih memilih untuk menggunakan himne gubahan John dan Carles Wesley.[4] Dari beberapa tokoh tersebut dapat disimpulkan bahwa seiring dengan berkembangnya liturgi dalam gereja, musik dan nyanyian (himne) juga terus mengalami perkembangan.

 

Liturgi Masa Kini

Pada masa sekarang ini, berbagai aliran gereja seperti Protestan, Pentakosta, Karismatik, Advent dan lain sebagainya membuat berbagai bentuk liturgi. Berkaitan dengan hal tersebut, yang menjadi tujuan dari setiap gereja adalah membawa umat Tuhan untuk berjumpa dengan Allah, memuji dan menyembah-Nya sebagai Allah yang hidup.  Semangat pembaruan ibadah terus berkembang hampir ke seluruh Eropa sehingga memunculkan tujuh bentuk baru dari liturgi yang semuanya berasal dari induk tradisional liturgi barat (Roma) yaitu sebagai berikut: Liturgi Lutheran, Reformed (Calvinis), Anabaptis, Anglikan, Puritan, Metodis dan Pentakostal. Bentuk-bentuk liturgi ini mewarnai liturgi gereja-gereja Protestan hingga saat ini, termasuk gereja-gereja di Indonesia.[5]

 

Musik Gereja Modern

Berikut ini kelanjutan perkembangan musik gereja yang mempengaruhi liturgi gereja pada periode modern: (1) Bala Keselamatan (1879-…M). Pendiri bala keselamatan adalah adalah William Booth, seseorang yang dibaptis di gereja anglikan namun kemudiankehidupan rohaninya mengarah ke Metodis. Pada masa ini, Booth, yang adalah seorang jendral memperhatikan kelompok  presbiterian yang memakai alat musik tiup dalam pertemuan-pertemuan mereka. Booth kemudian membentuk band dan mengaransemen musik-musik sekuler menjadi pujian dan kesaksian bagi Tuhan. Ibadah yang dilaksanakan oleh Bala Keselamatan disertai tepuk tangan, memukul tambur, teriakan haleluya dan disertai dengan instrument simbal dan drum; (2) Nyanyian penginjilan. Lagu-lagu penginjilan merupakan kontribusi yang khas  dari benua Amerika terhadap musik kekristenan, sebagaimana himne dan mazmur yang adalah kontribusi di  Eropa. Lagu-lagu penginjilan ini terbagi atas lagu penginjilan kaum kulit putih dan lagu penginjilan kaum hitam; (3) Kaum Pentakosta  (1900-1950). Pada masa ini, nyanyian yang dinyanyikan itu hidup, spontan dan sepenuh hati. Kaum Pentakosta menggunakan himne, nyanyian penginjilan, banyak chorus (lagu-lagu pendek dengan teks yang singkat dan sederhana) untuk menyatakan imannya. Sebagian besar gereja Pentakosta menerima penggunaan segala macam alat musik dalam ibadah mereka. Bahkan ada gereja Pentakosta yang mempunyai orkestra yang besar dan musik memegang peranan yang besar dalam ibadah mereka; (4) Kaum Karismatik (1950). Gereja episkopal Redemeer di Houston, Texas, adalah merupakan gereja pertama yang mengalam pembaruan Karismatik. Musik gereja yang  formal didobrak oleh keantusiasan beberapa anggota jemaat yang kreatif. Talenta yang kreatif seperti puisi, musik dan tarian dianggap sebagai karunia Roh Kudus. Lagu-lagu baru kebanyakan memiliki struktur bait dan reffrain dan memiliki kelebihan dari lagu-lagu penginjilan yaitu lagu-lagunya menyegarkan kerohanian. Setiap orang yang hadir dalam ibadah diajak untuk terlibat dalam nyanyian, doa dan juga diundang untuk menyanyi dalam roh.[6]

 

BENTUK-BENTUK LITURGI GEREJA

Bentuk-bentuk liturgi gereja masa kini terdiri dari tiga bentuk sebagai berikut[7]:

Pertama, liturgi bentuk formal. Ciri-cirinya yaitu: teratur, dipimpin oleh orang-orang khusus, menggunakan iringan musik  sederhana yaitu organ atau piano dan suasana dalam ibadahnya tenang. Bentuk liturgi umumnya dipakai oleh gereja-gereja beraliran Protestan. Semua bentuk dan unsur ibadahnya ditetapkan oleh sinode gereja masing-masing. Bentuk

liturgi formal adalah sebagai berikut:

Bagian pertama: Menghadap Tuhan.

  1. Nyanyian umat datang menghadap Allah
  2. Votum
  3. Nats pembimbing
  4. Salam
  5. Nyanyian umat
  6. Pengakuan dosa
  7. Berita pengampunan dan Anugerah
  8. Nyanyian sambutan umat
  9. Amanat hidup baru
  10. Paduan suara

Bagian kedua: Pelayanan Firman dan Sakramen

  1. Mohon doa bimbingan Roh Kudus
  2. Pembacaan Alkitab
  3. Pemberitaan Firman: Khotbah dan Perjamuan Kudus
  4. Nyanyian jemaat
  5. Pengakuan iman
  6. Doa syafaat
  7. Paduan suara

Bagian ketiga: Pengucapan Syukur

  1. Persembahan syukur (nyanyian jemaat dan doa)
  2. Paduan suara

Bagian keempat: Pengutusan

  1. Warta jemaat
  2. Amanat pengutusan
  3. Nyanyian pengutusan
  4. Berkat
  5. Saat teduh

 

Kedua, bentuk liturgi bebas. Ciri-cirinya yaitu: (1) semua unsur liturgi dipersiapkan oleh pemimpin pujian; (2) Liturgi bebas pada umumnya dipimpin langsung oleh siapa pun dalam jemaat yang terpanggil dalam pelayanan  dan memiliki kemampuan yang baik secara rohani dan bisa memimpin ibadah dengan baik; (3) Iringan musik dalam ibadah menggunaka semua alat musik lengkap bahkan ada yang disertai tari-tarian. Lagu-lagu dinyanyikan dengan tepuk tangan yang meriah (pujian dan penyembahan); (4) Keseluruhan ibadah diwarnai dengan pujian dan penyembahan (memberi kesempatan bagi karya Roh Kudus untuk memanifestasikan karunia-karunia). Pada umumnya, liturgi ini dipakai oleh gereja-gereja beraliran Karismatik dan Pentakostal, termasuk sebagian kaum Injili. Bentuk-bentunya yaitu: (1) Prolog (memulai ibadah); (2) Worship (penyembahan); (3)  Praise (Pujian); (4) Sermon (pelayanan firman); dan (5) Epilog (mengakhiri ibadah). Contoh liturgi bebas dalam gereja Bethel Indonesia sebagai berikut:

Penyembahan: Menyanyikan 1-2 lagu lambat dan masuk dalam penyembahan

Doa pembukaan

Puji-pujian: 2-4 lagu irama cepat

Pemberitaan firman Tuhan dan khotbah

Persembahan

Warta jemaat

Nyanyian penutup

Doa penutup dan berkat.[8]

 

Ketiga, bentuk liturgi fleksibel. Bentuk ini merupakan gabungan dari liturgi formal dan liturgi bebas. Bentuknya yaitu sebagai berikut:

Bagian I: Menghadap Allah

  1. Nyanyian
  2. Menggunakan doa pembukaan dan votum

Bagian II: Praise and Worship

  1. Full memuji dan menyembah Tuhan melalui nyanyian
  2. Doa syukur

Bagian III: Sermon (Pelayanan firman)

  1. Pelayanan firman dan khotbah
  2. Nyanyian
  3. Doa syafaat
  4. Nyanyian
  5. Persembahan

Bagian IV: Epilog

  1. Nyanyian
  2. Doa penutup dan berkat

 

 

PENUTUP

Dari uraian di atas, penulis menyimpulkan sebagai berikut:

Pertama, pada masa sesudah reformasi, gereja-gereja Katolik Roma tidak mengalami banyak perubahan liturgi sebab semua yang berkaitan dengan ibadah diatur oleh Paus dan setiap perubahan yang akan dilakukan harus mendapat persetujuan darinya. Sedangkan di Protestan muncul bermacam-macam aliran dengan bentu liturgi yang beraneka-ragam, sedangkan untuk musiknya juga mengikuti perkembangan yaitu dari mazmur berkembang kepada himne-himne gubahan manusia dengan menggunakan alat musik instrumental.

Kedua, pada masa kini, terdapat tujuh aliran gereja yang mempengaruhi bentuk-bentuk liturgi di kalangan kekristenan. Bentuk-bentuk liturgi tersebut dalam pelaksanaannya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk membawa jemaat menyembah Tuhan yang hidup. Musik gereja juga terus mengalami perkembangan dengan lagu-lagu baru dan alat-alat musik yang semakin modern.

Ketiga, bentuk-bentuk liturgi pada masa kini terdiri atas bentuk liturgi formal, liturgi bebas, dan liturgi fleksibel.

 

[1]Salmon Pah, Pengantar Liturgika: Pengaruh dari Balik Mimbar (Tangerang: Nafiri Sion Publishing, 2014), 41.

[2]Ibid.

[3]Tawan Tri Praptono, Diktat Pengntar Musik Gereja (Surabaya: Sekolah Tinggi Teologi Bethany, 2009), 56.

[4]Tawan Tri Praptono, Diktat Pengntar Musik Gereja (Surabaya: Sekolah Tinggi Teologi Bethany, 2009), 56-57.

[5]Salmon Pah, Pengantar Liturgika: Pengaruh dari Balik Mimbar, 41-42.

[6]Tawan Tri Praptono, Diktat Pengntar Musik Gereja, 58-67.

[7]Salmon Pah, Pengantar Liturgika: Pengaruh dari Balik Mimbar, 68-79.

[8]“Liturgi Gereja Bethel Indonesia,” Majalah Praise, diubah 12 Desember 2012, diakses 08 November 2015, http://www.majalahpraise.com/liturgi-gereja-bethel-indonesia-540.html.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *