Penginjilan Kepada Remaja-Pemuda

Oleh: Regina Femmi Mongkau.

PENDAHULUAN

Dunia kekristenan tidak lepas dari yang namanya misi dan penginjilan. Harianto GP, dalam bukunya yang berjudul “Pengantar Misiologi” menerangkan bahwa:

Istilah misi (dipakai dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Belanda dengan istilah missie dipergunakan dalam kalangan gereja, tetapi umumnya menggunakan kata zending) berasal dari istilah bahasa Latin missio yang diangkat dari kata mittere, yang berarti to send (mengirim atau mengutus). Padanan kata ini dalam bahasa Yunani adalah apostello. Kata apostello tidak berarti mengirim atau kirim (pempo) secara umum, tetapi lebih dari itu, yaitu “mengirim dengan  otoritas. Misi tidak lepas dari pengertian penginjilan  karena keduanya saling berhubungan erat. Jadi, ada penginjilan dalam misi dan dalam penginjilan, dapat ditemukan misi (pengutusan).[1]

Stevri I. Lumintang, dalam bukunya “Misiologia Kontemporer” juga mendefinisikan arti penginjilan yaitu “Penginjilan adalah membagi atau memberitakan kabar baik kepada orang lain. Kabar baik tersebut adalah Yesus Kristus sendiri yang diberitakan oleh gereja bahwa Ia telah mati dan bangkit dari antara orang mati bagi penebusan manusia berdosa.”[2] Jadi, dapat dikatakan bahwa penginjilan berpusat pada pemberitaan akan Kristus Yesus dan karya-Nya.

Penginjilan dapat dilakukan dalam berbagai kalangan. Salah satu yang dapat dijadikan obyek dalam penginjilan yaitu kalangan remaja dan pemuda. Sebelum memahami lebih lanjut tentang penginjilan dalam kalangan remaja dan pemuda, terlebih dahulu mari memahami apa yang dimaksud dengan remaja dan pemuda.

Masa remaja adalah masa “eksternalisasi” atau “proyeksi”, yakni memantulkan (apa yang telah direkam pada masa kanak-kanak). Yang dimaksud masa remaja adalah masa sang anak itu sudah beranjak memasuki SLTP dan SMU. Secara biologi, remaja sudah mulai mengalami perubahan-perubahan dalam liku-liku perkembangan fisiknya. Remaja pria mengalami aneka perubahan, misalnya suara menjadi semakin besar atau berat, tumbuh rambut di beberapa bagian tubuhnya di samping di kepala (kumis, di ketiak dan sekitar alat kelamin), alat kelaminnya bisa bereaksi serta dapat mengeluarkan air mani. Pada remaja perempuan juga tumbuh rambut ekstra (di ketiak dan di sekitar alat kelamin), buah dada yang membesar, serta mengalami haid. Semua itu akibat hormon-hormon yang mulai bekerja sesuai dengan “jadwal” yang telah diprogram di dalam tubuhnya.[3] Alkitab mencatat remaja 20 tahun ke atas (Bil. 1:3, 18; 14:29) dan masa pubertas sekitar umur 12-17 tahun.[4]

Masa remaja adalah masa yang rentan dan muda terjerumus dengan berbagai godaan. Karena itu, remaja diibaratkan dengan berandalan, pemberontakan, pengacauan, pecandu obat bius, liar, atau ada jurang pemisah generasi. Masa remaja adalah suatu proses pembentukan diri yang sangat sensitif. Dokter Andik Wijaya misalnya melakukan penelitian terhadap 202 responden di kota Malang pada September 2001. Hasilnya sebagai berikut: Sebanyak 93% remaja di kota Malang mengaku telah terlibat dengan materi-materi pornografi. Sebanyak 82% menyatakan sekedar pernah, 10% sering, dan 1% mengaku setiap hari terlihat hal-hal yang  berbau pornografi. Responden yang diteliti terdiri dari 51,5% laki-laki dan 48,5 perempuan, serta 6% berusia 13-15 tahun, 67, 3% berusia 16-18 tahun, 26,7% berusia si atas 18 tahun. Dalam penelitian ini terungkap hampir 15% responden telah melakukan hubungan seks sebelum menikah, bahkan 100% dari mereka yang telah bertunangan mengaku melakukan hubungan seksual. Satu di antara tiga remaja atau 35% mengaku mengakses situs internet pornografi. Tak heran, kalau menurut “Buku  Fakta” yang dikeluarkan oleh UNFPA dan Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan terbitan tahun 2000, diperkirakan sekitar 2,3 juta tindakan aborsi dilakukan di Indonesia setiap tahun. Karena tidak aman seringkali mengakibatkan kematian ibu sebesar 35-50%.[5]

Kaum muda adalah mereka yang masuk usia 18-34 tahun (young adulthood). Mereka memiliki ciri-ciri umum: dewasa secara fisik, siap menikah, mampu secara intelektual, matang secara seksual, mulai merintis pekerjaan, mampu menyesuaikan diri di tengah kehidupan bermasyarakat.[6] Kaum muda dapat dipahami sebagai orang-orang yang memiliki tiga ciri: Pertama, ia telah memasuki masa akil balig. Kedua, ia sedang berada dalam berbagai transisi. Ketiga, ia sedang menuju tingkat kematangan yang dimiliki orang dewasa.[7]

Hasil riset yang dikerjakan oleh Ron Hutchcraft, Youth for Christ Director for Metro New York mengatakan perkembangan yang terjadi terhadap pemuda di Amerika adalah ”lost generations”, sebagai berikut:

Tahun 1950, remaja-pemuda sudah merasa tidak berdosa atas apa yang mereka lakukan baik dengan musik, bioskop, mobil atau dengan uangnya. Mereka menemukan kebebasan hidup. Justru mereka merasa bersalah jika tidak hidup bebas. Tahun 60-an, otoritas agama (Alkitab) sudah hilang. Bukan hanya otoritas agama, tetapi otoritas orangtua bahkan pemerintah. Mereka tidak percaya siapa saja selain dirinya sendiri. Tahun 70-an, mereka kehilangan kasih. Mereka berasal dari families broke dan kids hungry. Ia justru belajar mengasihi dirinya sendiri, bukan orang lain. Tahun 1980, anak-anak muda telah kehilangan harapan. Mereka merasa segala sesuatunya karena dirinya sendiri. Mereka cenderung ke tidak beragama.[8]      

Dari data-data yang telah dipaparkan di atas, dapat dinyatakan bahwa kebanyakan dari masa remaja dan pemuda tidak dimanfaatkan dengan baik untuk mengasa bakat dan keterampilan yang ada dalam diri, tetapi malah dalam masa-masa inilah kecenderungan untuk melakukan hak-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan terjadi. Oleh karena itu, sangat diperlukan adanya penginjilan yang efektif saat orang-orang memasuki masa remaja dan pemuda.

Tujuan dari penulisan paper ini adalah untuk menjawab pertanyaan sebagai berikut:  Apa yang dimaksud kedaulatan Allah dan penginjilan? Bagaimana strategi- strategi dalam penginjilan remaja-pemuda?

 

KEDAULATAN ALLAH DAN PENGINJILAN

 

Kedaulatan Allah

Penginjilan tidak lepas dari kedaulatan Allah. Menurut J. I. Packer, ada dua proposisi kedaulatan Allah dalam penginjilan yaitu sebagai berikut:

Pertama, kedaulatan Allah dalam anugerah sama sekali tidak mempengaruhi apapun yang telah orang percaya katakan tentang natur dan tugas penginjilan. Prinsip yang berlaku di sini adalah tugas dan tanggung jawab setiap orang percaya merupakan kehendak Allah dalam bentuk peraturan, bukan kehendak-Nya yang tersembunyi. Orang percaya diperintahkan untuk hidup sesuai dengan hukum-Nya, bukan dengan menebak-nebak rencana-Nya. Musa menjelaskan prinsip ini saat ia menyudahi ajarannya tentang hukum, ancaman, dan janji-janji Allah: “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita … supaya kita melakukan segala perkataan Hukum Taurat ini (Ul. 29:29).”[9]

Kedua, kedaulatan Allah dalam anugerah memberikan satu-satunya pengharapan atas keberhasilan dalam penginjilan.  Jika bukan karena kedaulatan anugerah Allah, penginjilan akan menjadi usaha yang paling sia-sia, tak berguna, dan hanya membuang-buang waktu. Allah melakukan hal-hal yang manusia tidak dapat lakukan. Allah bekerja oleh Roh-Nya melalui Firman-Nya dalam hati orang berdosa untuk membawa mereka pada pertobatan dan iman. Iman adalah pemberian Allah (Flp. 1:29; Ef. 2:8). Demikian juga, pertobatan adalah pemberian Allah (Kis. 5:31, 11:18). Siapa pun tidak dapat membuat orang berdosa bertobat dan percaya kepada Kristus hanya dengan perkataan kita; tetapi Allah mengerjakan iman dan pertobatan dalam hati orang berdosa melalui Roh Kudus-Nya.[10]

 

Penginjilan

Ada tiga hal penting yang dapat dipelajari dari pribadi Paulus dalam penginjilan yaitu: (1) Paulus menginjili sebagai wakil Tuhan Yesus Kristus yang diutus-Nya. Penginjilan adalah tugas yang secara khusus dipercayakan kepada Paulus (1 Kor. 1:17). Paulus memandang diri sebagai pelayan Kristus (1 Kor. 4:1-2, 9:16-17; 1 Tes. 2:4; ). (2) Paulus memandang dirinya  sebagai bentara Kristus. (3) Paulus juga memandang dirinya sebagai utusan Kristus.[11] Dari ketiga hal ini bisa dilihat bahwa Paulus sama sekali tidak bermegah atas dirinya sendiri melainkan ia sadar benar bahwa yang ia lakukan adalah pusatnya kepada pemberitaan Kristus. Demikian pula hendaknya setiap orang percaya/penginjil dalam memberitakan Injil Kristus yaitu harus mengikuti teladan seperti yang dilakukan Paulus.

 

Pemberitaan dalam Penginjilan

Ada empat hal yang harus diberitakan di dalam penginjilan yaitu: (1) Injil adalah berita tentang Allah. Injil memberitakan siapa Dia, apa karakter-Nya, apa standar-Nya, dan apa yang Ia tuntut dari ciptaan-Nya. (2) Injil adalah berita tentang dosa. Injil memberi tahu bahwa manusia telah gagal menurut standar Allah; manusia telah berdosa, kotor, tidak berdaya dalam dosa, dan kini berada di bawah murka Allah. (3) Injil adalah berita tentang kristus – Anak Allah yang berinkarnasi; Anak Domba yang mati bagi dosa manusia; Tuhan yang bangkit; Juruselamat yang sempurna. (4) Injil adalah undangan untuk beriman dan bertobat (Kis. 17:30).[12] Jadi, isi pemberitaan Injil harus mencakup keempat hal tersebut. Jangan ada pemberitaan-pemberitaan lain yang mengarahkan kepada fokus diri sendiri.

 

PENGINJILAN REMAJA-PEMUDA

Untuk melakukan penginjilan dalam kaum remaja-pemuda, maka  harus ada strategi-strategi penginjilan yang dilakukan. Berikut ini adalah enam strategi penginjilan bagi kaum remaja.

Pertama, kegiatan penginjilan dipusatkan di tengah kegiatan para remaja. Penginjil hidup di tengah kesibukan para remaja. Penginjil menjadi teman dan berbagi dialog dengan para remaja. Semakin banyak waktu penginjil bersama-sama dengan (hidup) di tengah mereka, maka kesempatan untuk memenangkan mereka sangat terbuka lebar. Di sini, penginjil lebih banyak berperan sebagai “filter” untuk tidak melakukan hal-hal yang liar terhadap para remaja. Penginjil menjadi tempat berkeluh kesah mereka. Kadang kala keluh kesah itu seputar hubungan remaja dengan orangtua, kakak, atau pelajaran sekolah. Karena dibutuhkan penginjil yang dapat masuk di tengah pergaulan mereka – biasanya juga sesama remaja- maka perlu dikembangkan pemuridan dari kaum remaja gereja untuk menjadi penginjil di tengah para remaja.[13] Contoh pemuridan yang bisa dilakukan misalnya dengan mengadakan SOM.

Kedua, menanamkan nilai-nilai kasih kepada kaum remaja. Misalnya, Allah mengasihi semua orang[14] (Yoh. 3:16), termasuk para remaja. Penginjil harus memberikan pemahaman yang baik bahwa Allah tidak pernah membeda-bedakan kasih-Nya. Allah tidak pernah melihat latar belakang keluarga, status sosial, dan sebagainya.

Ketiga, menanamkan nilai-nilai moral. Tentu saja hal ini berlandaskan nilai-nilai Alkitab. Jadi, para remaja perlu untuk memahami Alkitab semakin dalam (Mzm.119:9).[15] Cara yang dapat dilakukan agar para remaja semakin memahami Alkitab misalnya dengan melakukan penelaan Alkitab secara teratur.

Keempat, menyadarkan bahwa kaum remaja masih mempunyai kesempatan waktu yang panjang dalam menempuh kehidupan ini. Jadi, kesempatan waktu jangan disia-siakan. Gunakan kesempatan waktu yang ada semaksimal mungkin untuk hidup dalam rencana Allah: hidup berkarakter Allah dan menjadi teladan bagi orang lain sehingga banyak remaja dimenangkan jiwanya karena pola hidup yang demikian (1 Tim. 4:12).[16]

Kelima, mengembangkan kondisi lingkungan yang bernuansa nilai-nilai yang berkenan di hadapan Allah: olahraga, belajar Alkitab, menolong orang lain, meningkatkan diri dengan belajar bersama, dan sebagainya.[17]

Keenam, belajar mengambil keputusan. Bila ada ajakan untuk melakukan sesuatu  yang tidak sesuai dengan perintah Allah, maka ia dengan tegas menolaknya (Mat. 5:37). Bahkan dapat menyadarkan teman remajanya agar tidak berbuat hal-hal yang sudah direncanakan.[18]

Ada empat hal yang menjadi strategi penginjilan bagi kaum muda yaitu:

Pertama, words and witnessing (pengaruhi semaksimal mungkin). Di sini terjadi suatu proses sharing life dan serving life. Beri kasih: lingkungan hubungan antar pribadi, dalam hubungan pada kelompok-kelompok kecil, dan dalam persekuutuan kaum muda di jemaat.

            Kedua, pusatkan kepada pribadinya untuk membangun persahabatan, bukan untuk mencari permusuhan. Dengan begitu pemuda hidup dalam membangun masyarakat baru – masyarakat persahabatan. Tawarkan pertolongan agar tidak terpisah: budaya kaum muda, budaya di persekutuan doa, budaya muda jemaat, budaya jemaat.

Ketiga, meletakkan dasar rohani: the camera’s eye. Bawa mengharapkan keselamatan, konfrontasi realita dan hidup dalam Kristus, dan sharing Kristus. Keempat, melakukan multiplication. Kelima, long-term concern. Keenam, follow-up through care: the power of prayer.[19] Multiplikasi dapat terjadi dengan cara mengajak kaum muda untuk ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan ibadah youth di gereja. Selain itu, setiap penginjil dan hamba-hamba Tuhan serta setiap kaum muda yang telah percaya kepada Tuhan perlu untuk selalu mendoakan kaum muda agar terjadi mujizat atas kaum muda yang belum percaya.

 

.    

 

PENUTUP

Kedaulatan Allah tidak bisa dipisahkan dalam melakukan penginjilan. Allah turut bekerja dalam penginjilan. Dalam Perjanjian Lama, kedaulatan Allah didasarkan pada Hukum Taurat, sedangkan pada Perjanjian Baru kedaulatan Allah didasarkan pada anugerah Allah melalui Yesus Kristus. Dalam Yesus Kristus, pertobatan dikerjakan oleh Allah dengan iman yang diberikan di dalam hati setiap orang yang mau percaya kepada Yesus melalui karya Roh Kudus dalam hati.

Tiga hal yang harus dimiliki seorang pemberita Injil yaitu sadar bahwa ia adalah wakil Allah untuk melakukan tugas penginjilan, ia adalah  bentara Allah, dan ia adalah utusan Allah. Empat hal yang  harus diberitakan dalam penginjilan yaitu pemberitaan tentang Allah, pemberitaan tentang dosa, pemberitaan tentang Kristus, dan pemberitaan tentang undangan untuk beriman dan bertobat.

Dalam penginjilan kaum remaja-pemuda, harus ada strategi-strategi yang dilakukan. Ada enam strategi yang bisa dilakukan dan itu semua tidak lepas dari campur tangan Roh Kudus dalam hati remaja-pemuda yang diinjili. Setiap penginjil hanya bertugas untuk melakukan  kewajiban/strategi penginjilan sesuai dengan kapasitas yang terbaik, tetapi hasilnya hanya ditentukan oleh Allah sendiri.

 

[1]Harianto GP, pengantar Misiologi (Yogyakarta: Andi, 2012), 5, 7.

[2]Stevri I. Lumintang, Misiologia Kontemporer (Batu: Departemen Literatur PPII, 2006), 132.

[3]B. A. Abednego, “Mempersiapkan Anak dan Remaja Menghadapi Era Globalisasi,” Jurnal Pelita Zaman 8, no. 2 (1993): 105.  

[4]Harianto GP, Mission for City (Bandung: Agiamedia, 2006), 178.

[5]Freddy Mutiara, “Aduh, Berat: 93% ABG Pernah Lihat Triple XI,” Jurnal Tiang Api 7, no. 57 (2001): 35.

[6]Daniel K. Nugroho, “Tantangan dan Harapan Generasi Muda Gereja di Abad 21,” Jurnal Gema Aletheia, Edisi 36 (April 2001): 27.

[7]Robby I. Chandra, Budaya Kota Kawula Muda dan Media Modern (Jakarta: Binawarga, 1998), 95.

[8]David R. Veerman, Youth Evangelism (USA: Victor Books, 1988), 13.

[9]J. I. Packer, Evangelism and The Sovereignty (Surabaya: Momentum, 2013), 77.

[10]Ibid.

[11]J. I. Packer, Evangelism and The Sovereignty, 29-32.

[12]Ibid, 44-54.

[13]Harianto GP, Mission for City, 181.

[14]Ibid.

[15]Ibid, 183.

[16]Ibid.

[17]Harianto GP, Mission for City, 182.

[18]Ibid.

[19]Ibid, 185-186.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *