Tanggapan Terhadap Buku “Christian Spirituality” An Introduction karya Alister E.McGrath

Penulis memberikan preambule tentang Christian Spirituality dengan kalimat “reflection on the whole Christian enterprise of achieving and sustaining a relationship with God, with includes both public worship and private devotion, and the results of these in actual Christian life.”  Penulis menekankan prinsip “usaha untuk mencapai dan mempertahankan hubungan dengan Allah” yang terlihat baik dalam ibadah pada umumnya maupun dalam pengabdian pribadi, dan hasilnya ada pada kehidupan aktual sebagai seorang Kristen.  Definisi menurut penulis itu terurai menjadi berbagai topik,  ditulis dengan bahasa yang sederhana, luas dan walaupun terasa tidak mendalam, tetapi juga tidak dangkal. Porsinya tepat sebagai sebuah “Introduction”.  Selanjutnya penulis memberikan definisi dasar dari Christian Spirituality yaitu:

Christian Spirituality concerns the quest for a fulfilled and authentic Christian existence, involving the bringing together of the fundamental ideas of Christianity and the whole experience of living on the basis of and within the scope of the Christian Faith.  Jika scope dari spiritualitas adalah agama, maka menurut penulis, scope  dari Christian Spirituality adalah iman Kristen.

Yang menyenangkan dari buku ini adalah tidak hanya berisi teori dasar tetapi adanya aplikasi praktis dan ilustrasi dari teori tersebut. Terlihat pergumulan penulis untuk benar-benar menghidupi buku ini bahkan tidak hanya pada detil isi buku, tetapi bahkan masuk sampai ranah desain layout buku ini. Tingkat perfectionist yang seharusnya menjadi standart bagi penulis-penulis buku lainnya.  Anda tidak hanya menulis buku lalu berharap pembaca mau mengambil dan membacanya, tetapi Anda berusaha mengemasnya dan mengantar isi buku itu sampai ke hati dan pikiran pembaca.

Dalam satu bagian buku ini tentang problem tantangan “idolatry”, penulis dengan halus tetapi tegas mengingatkan kita dengan kebenaran bahwa ”Jesus is the image of invisible God” (kolose 1:15).  Sehingga jika ada tokoh Gereja yang membuat sebuah image tentang dirinya seakan-akan dia begitu mengenal Allah dan mulai membuat klaim-klaim pengalaman rohaninya yang pada ujungnya adalah membuat dia menjadi seorang idola di dalam gereja tersebut dan mulai menggeser Yesus sebagai image Allah satu-satunya, maka gereja sedang dalam bahaya besar.

Disatu sisi dalam praktek penggembalaan (orang tua saya adalah Gembala dari gereja dengan 500 jemaat), menghadapi perbedaan yang begitu kontras dari kualitas kedewasaan rohani jemaat adalah tantangan yang sulit.  Ada jemaat yang begitu kaku. Pembangkang, pemberontak terhadap kebenaran yang tertulis jelas di Alkitab, tetapi begitu mendengar bahwa seorang hamba Tuhan mendapatkan karunia mimpi atau muzizat,  jemaat itu bisa begitu mudahnya percaya pada hamba Tuhan tersebut tanpa memeriksa kebenarannya lagi.  Saya berasumsi tipikal jemaat tersebut ada di semua gereja dan dihadapi semua gembala dan ini menggoda gembala, pendeta dan hamba-hamba Tuhan lainnya untuk menampilkan dirinya yang ‘sakti rohani’.  Alih-alih menjadi sakti rohani, hamba-hamba Tuhan itu akhirnya malah menjadi sakit rohani.  Ini diperparah dengan perlakuan jemaat yang mendukung ala cinta itu buta terhadap hamba Tuhan yang jelas-jelas sakit rohani itu.

Kasus yang sangat menyita perhatian publik di Surabaya akhir-akhir ini, tentang seorang ibu gembala dari sebuah persekutuan doa yang menceraikan suaminya, lalu menganjurkan jemaatnya bercerai dan kemudian menikahi jemaatnya tersebut menunjukkan betapa remuknya kualitas kerohanian banyak pemimpin gereja dan jemaat.  Bukan hanya di persekutuan doa tersebut, tetapi fakta bahwa beberapa hamba Tuhan yang berotoritas tetapi memilih diam walaupun sudah mendapatkan laporan dari istri jemaat yang diceraikan tersebut.  Fakta lain bahwa beberapa hamba Tuhan malah mendukung ibu Gembala tersebut dan malah menyalahkan istri yang diceraikan tersebut. Saya mengerti kasus ini tidak hanya tentang idolatry, tetapi juga tentang kekuasaan uang dan buta tuli matinya integritas.

Secara umum saya ingin berterima kasih pada kerja keras penulis buku ini dan terinspirasi dengan strateginya dalam menyusun buku ini. Sebuah karya tulis yang sungguh indah dan diberkati Tuhan.

 

Ronny Paulus Sucahyo, MA

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *