Tanggapan Terhadap Buku “Losing Our Virtue”, karya David F.Wells

Buku ini tentang kebudayaan yang sedang mengalami disintegrasi dalam masyarakat Amerika dan apa maknanya bagi gereja saat ini dengan pokok perhatian penulis pada Gereja dan erosi pada karakter teologisnya. Penulis berusaha memikirkan pertentangan antara iman Kristen dan kebudayaan Amerika yang sedang mengalami disintegrasi moral. Apa akibat keruntuhan ini terhadap pemahaman kita tentang diri kita sebagai makhluk moral?  Penulis menyadari bahwa tulisan dibuku ini dapat menyinggung perasaan orang-orang yang tidak mau mendengar kebenaran teologis.  Penulis mengawali bukunya dengan sebuah perasaan bahwa dua puluh lima tahun yang lalu, memakai kata teologia itu menyenangkan, tanpa rasa was-was.  Saat itu yang menjadi pemimpin organisasi besar Evangelikalisme adalah pendeta dan pakar Alkitab dari kalangan mereka sendiri. Tetapi sekarang yang menjadi pemimpin adalah pengusaha dan para manajer, sedangkan para pendetanya yang jumlahnya terus meningkat, tidak bisa dibedakan dengan orang-orang bisnis yang kemampuannya untuk menemukan pasar telah begitu tajam. Buku ini ditulis dengan bahasa khas penulis yang indah. Topik-topik ditulis dengan diksi puitis seperti ”Dongeng Dua Spiritualitas”, ”Taman Bermain Hasrat”, ”Api Unggun Diri”, ”Dari Amnesia ke Ingatan”.  ”Rasa Bersalah Dalam Remisi”, ”Tersesat dalam ruang moral”.

Buku ini membicarakan budaya Amerika yang nampaknya mulai kehilangan rasa malu, moralitas yang meluncur hancur, karakter menyelamatkan diri sendiri dan pemberontak serta analisa mendalam terjadinya tranformasi kultural dan spiritual pada dosa.  Dari setiap topik yang dibahas, penulis berusaha menyajikan hidangan solusi dan tantangan untuk berpikir kritis dan mengambil tindakan untuk kembali pada Firman Tuhan.

Buat saya yang bukan american dan tidak tinggal dalam budaya Amerika, buku ini semacam tambahan wawasan dari pergumulan batin teolog Amerika. Buku ini bisa berguna ketika saya berbicara dengan teman dan kolega yang berasal dari Amerika atau tinggal disana.  Buat kepentingan Indonesia, walaupun secara budaya sangat kontras, tetapi dosa tetaplah dosa. Dosa sangat cerdik untuk bisa menerobos budaya apapun, termasuk Indonesia.  Kecanggihan internet membuat amoralitas dan pola pikir Amerika yang menyimpang dari Alkitab bisa mempengaruhi teolog dan pemimpin Kristen yang gemar belajar dari Amerika dan membawa pulang dosa itu untuk dibagikan ke Indonesia. Karena itu buku ini bisa sebagai pembanding, jangan-jangan Indonesia sudah sama dengan Amerika dalam kemerosotan moralnya.  Jangan-jangan bukan hal yang baik saja yang selama ini kita impor dari Amerika, tetapi dosa yang dikemas sebagai kado natal?

 

Ronny Paulus Sucahyo, MA

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *