Tanggapan Terhadap Buku “Theologia Kepemimpinan Kristen” karya Stevri Indra Lumintang

Secara garis besar, buku ini enak dibaca dengan bahasa yang tajam, keras dan mendebarkan jantung. Penulis buku ini membidik para pemimpin Kristen yang berkualitas buruk dengan pendekatan korektif yang sarat dengan tantangan untuk berpikir kritis, sekaligus mengajak kita untuk kembali ke Alkitab.  Membahas topik-topik yang aktual, diantaranya “Krisis kepemimpinan yang Alkitabiah”,  “Pemimpin Gereja yang tidak Gerejawi”, “Penolakan terhadap Kepemimpinan Tuhan”, “Kerajaan Allah Menurut Alkitab”, “Theokrasi Theologis”, Theologia Kepemimpinan Kristen yang Theokratis” serta “Betapa Indahnya Mencapai Garis Akhir Kepemimpinan Secara Theologis”.  Penulis secara lugas menantang kita untuk berpikir ulang pada kutipan-kutipan yang sering kita dengar seperti “memimpin adalah mempengaruhi, benarkah?”, “Saya mengerjakan bagian saya dan Tuhan mengerjakan bagian Tuhan, Benarkah?”

Mengawali buku ini dengan pertanyaan apakah pemimpin dilahirkan (nature) atau dibentuk (norture), Disatu sisi penulis menyampaikan dua teori yang berkembang bahwa memang ada pemimpin yang dilahirkan, dan juga ada pemimpin yang dibentuk. Disisi yang lain, penulis mengajak pembaca untuk berpikir kritis terhadap mereka yang fokus hanya pada norture.  Sasarannya adalah para  motivator dan teolog yang mengagungkan norture.  Pemimpin itu dibentuk melalui seminar, pelatihan, workshop dan segala teknik pembentukan kualitas kepemimpinan. Sisi yang disorot dengan lampu terang oleh penulis adalah ketika motivator kristen dan teolog mulai menanggalkan dan meninggalkan Alkitab.  Penulis berpendapat, pemimpin sejati adalah Yesus. Semua pemimpin di dunia ini adalah alat, karena itu menurut penulis, tidaklah mungkin alat menjadi pengaruh.  Penulis dengan tegas menuliskan ”Kalau masih membicarakan mengenai arti kepemimpinan adalah pengaruh, maka hanya Allah satu-satunya sumber pengaruh atau terang yang sesungguhnya, secara subyektif aktif, satu-satunya yang mempengaruhi orang pada umumnya melalui karya providensinya dan mempengaruhi orang percaya pada khususnya melalui Roh-Nya dan Firman-Nya. Pada akhirnya, penulis menegaskan bahwa kedua teori yang berkembang tersebut tidaklah Alkitabiah.  Ketika berbicara tentang asal usul pemimpin dalam konteks Alkitab, yang ada adalah pemilihan Allah. Yang dipilih oleh Allah dilahirkan dengan kemampuan memimpin dan dibentuk dengan pengalaman belajar untuk memimpin.

Pola yang sama diulang penulis untuk topik-topik lainnya. Penulis memaparkan pemahamannya agar pembaca memahami pesan Firman Tuhan dengan lebih tepat. Misalnya dalam topik ”Saya mengerjakan bagian saya dan Tuhan mengerjakan bagian-Nya”, penulis berteologia bahwa sesungguhnya Allah adalah inisiator, executor, dinamisator dan aplikator segala ciptaanNya, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. KehendakNya adalah mutlak. Ia menghendaki kita melakukan kehendakNya, maka Ia memberikan pemahaman akan kehendakNya, lalu kemampuan untuk kita melakukan kehendakNya.

Bagi saya sebagai pembaca dan mahasiswa yang sedang belajar, disatu sisi buku ini membantu saya untuk melihat pemikiran dari seorang penulis yang sangat mengasihi Tuhan dan tidak ingin manusia menomor duakan Tuhan.  Segala sesuatu ada dan terjadi oleh kasih karunia Tuhan.  Disisi yang lain, bagi saya core dari  buku ini bukanlah konsumsi jemaat umum.  Para motivator kristen dan teolog seperti saya harus menemukan strategi baru untuk mendaratkan isi Alkitab pada pola pikir jemaat yang sudah sangat terkontaminasi pikiran para motivator dunia yang bahkan menolak Alkitab dan Yesus.  Apa yang disampaikan penulis memang masih fokus pada ranah berteologia sebagaimana yang dimaksudkan sejak awal dari buku ini.  Sehingga, sisi praktisnya adalah tantangan besar di lapangan, bagaimana Firman Tuhan tetap disampaikan, tetapi dengan bahasa yang persuasive-psikologis.  Saya meyakini karya Roh Kudus untuk menerjemahkan perbedaan kecerdasan, budaya dan bahasa pada jemaat umum dengan cara yang supranatural, tetapi saya juga meyakini bahwa Roh Kudus terkadang bekerja melalui psikologi manusia, sesuai kehendakNya. Sehingga sisi psikologi manusia inilah yang harus saya pikirkan strateginya agar dari sisi praktek di gereja, jemaat lebih mudah menerimanya untuk mereka bawa pulang.

 

Ronny Paulus Sucahyo, MA

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *