Peran Misi Dalam Menyehatkan Gereja

Penulis : Tony Tobing.

Pendahuluan:

Gereja yang ideal adalah gereja yang harus terus mengalami pembaharuan.Saat gereja berhenti untuk dibaharui, saat itulah gereja sedang sakit.Reformata semper reformanda artinya gereja harus diperbarui dan selalu memperbarui.

Sejak lahirnya gereja dan seiring perkembangannya, gereja terus mengalami kemajuan maupun kemerosotan.Itulah sehingga dalam sejarah perkembangannya berulang kali gereja harus mengalami pembaharuan.Puncaknya pada tahun 1517 Reformasi terjadi demi mengembalikan gereja pada prinsip Alkitab yang sesungguhnya sebagaimana yang telah dimulai oleh para Rasul (zaman gereja Rasuli) sebagi akibat dari penyimpangan yang terjadi dalam Gereja Katholik Roma.Tidak hanya sampai disitu, dalam masa selanjutnya gereja Protestan yang kemudian sibuk dengan liturgi dan organisasi atau hal lainnya yang akhirnya mengakibatkan kekakuan dalam gereja harus mengalami pembaharuan dengan munculnya Pietisme, Puritanisme serta Methodis.

Masalah yang terjadi selalu dimulai dari ajaran yang tidak berpusat seutuhnya pada Alkitab. Dengan kata lain gereja mulai mengubah dirinya menjadi seperti dunia. Peran dan panggilan gereja yang seutuhnya sebagai instrumen Misi Allah di dunia mulai mengalami pergeseran.Pertanyaan penting yang harusnya menjadi perenungan gereja maupun Sekolah Theologia saat ini, “Apakah gereja telah kehilangan panggilan-Nya sebagai agen misi Allah?” Tentunya TIDAK! Panggilan misi gereja tidak berubah ataupun hilang, namun gereja sedang mengaburkan, mengabaikan bahkan meninggalkan panggilan tersebut.

Ini artinya gereja sedang kurang sehat atau bahkan TIDAK SEHAT, dengan kata lain gereja SEDANG SAKIT. Inilah yang akan menjadi perhatian kita.

Untuk mencapai gereja yang sehat atau gereja yang Alkitabiah maka teologia dalam gereja harus kembali kepada hakekat gereja itu sendiri, gereja tidak boleh meninggalkan misiNya ataupun menomorduakan misi.Misi adalah nafas gereja.Gereja ada karena misi Allah dan gereja juga mendapat anugerah sebagai instrument misi Allah.

 

  1. GEREJA YANG SESUNGGUHNYA

Shierley C. Guthrie melihat istilah Ekklesia dalam Perjanjian Baru yang digunakan untuk menunjuk gereja, dalam bahasa Inggris menggunakan kata call outyang memiliki dua makna yaitu:

  1. Mereka yang dipanggil dan menerima pengampunan,
  2. Mereka yang diutus kembali menjadi agen pemberita keadilan Allah, pengampunan dan pembaharuan dalam dunia.[1]

Bahkan Dietrich Kuhl mengartikan demikian:

  1. Orang-orang yang dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib
  2. Orang-orang yang dalam terang diutus keluar untuk memberitakan Kristus kepada dunia.

Gereja sebetulnya mempunyai fungsi yang lebih bersifat instrumental, ketimbang sebagai tujuan pada dirinya sendiri.Yang menjadi tujuan dari kasih dan karya penyelamatan Allah di dunia ini.Oleh karena itu, gereja harus hadir di tengah-tengah dunia ini dan membawa berkat bagi dunia ini.Tidak hanya mengajak supaya dunia ini masuk ke dalam gereja, tetapi bagaimana gereja keluar dan menjumpai dunia ini untuk mempertemukan dunia ini dengan Allah, itulah yang menjadi inti dari teologi.

Gereja ada bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk dunia ini

Istilah pengutusan inilah yang dikenal sebagai “Misi”.Misi Gereja harus berakar pada Misi Allah (Missio Dei) karena semua aktivitas Misi adalah dari Allah, oleh Allah dan untuk Allah saja.Misi gereja bukanlah milik gereja, melainkan milik Allah.[2]

Gereja ada seutuhnya untuk tujuan-tujuan yang dimaksud Allah ketika Ia menciptakannya. Ia merupakan suatu komunitas dalam respons terhadap Missio Dei, yang memberikan kesaksian tentang kegiatan Allah di dunia melalui pemberitaan kabar baik mengenai Yesus Kristus dalam ucapan dan tindakan.[3]Namun yang terjadi pada masa kini, fokus misi telah bergeser, sehingga misi dipandang sebagai milik gereja.[4]

Kesimpulan:

Tidak boleh ada pemisahan antara gereja dan misi.Karena dalam istilah ‘gereja’ sebenarnya telah terkandung tanggung jawab misi.

 

  1. WAJAH GEREJA MASA KINI

Sesungguhnya gereja adalah alat anugerah (an instrument of grace) dan alat pembentukan (formative element) dari Allah untuk menyaksikan anugerahNya di dalam Yesus Kristus bagi dunia.[5] Namun fakta di lapangan masa kini menunjukkan kepada kita bahwa:

  1. Gereja mulai kompromi dengan dosa

Terjadi pengikisan standar Alkitab dalam tanggung jawab pribadi maupun integritas moral. Misalnya:Ada gereja yang melegalkan pernikahan sejenis, memperbolehkan perceraian, dll

  1. Gereja melayani diri sendiri (self service)

Gereja menghabiskan banyak waktu, tenaga maupun danahanya untuk mengurus organisasi dalam gereja, jemaatnya, bangunannya, pelayanannya yang berkutat dalam gereja itu sendiri

  1. Gereja lebih condong menjadi organisasi sosial

Hanya mendukung program liberal untuk memperbaiki dunia (sosial justice) dengan mengabaikan tugas utama gereja yaitu memberitakan Injil.[6]Gereja condong kepada pelayanan sosial yang hanya berorientasi kepada jemaat, mengakibatkan program-program gereja lebih banyak bersifat sosial.Banyak orang ke gereja untuk mendapatkan bantuan sosial, atau karena telah mendapatkan bantuan sosial

  1. Kegairahan rohani yang dangkal

Lebih kepada daya emosional yang kurang diimbangi dengan pemahaman Theologia yang benar.

 

  1. SEBAB GEREJA MENJADI TIDAK MISIONER

Beberapa konflik yang terjadi dalam misi gereja, yaitu:

  1. Kompromi Teologi

Hal ini menjadi serangan iblis yang serius terhadap kewibawaan Firman Tuhan. Iblis berusaha menentang proklamasi Injil dengan cara yang halus misalnya gereja harus hadir di masyarakat namun tidak perlu terang-terangan. Istilah yang paling gampang digunakan adalah ‘toleransi’.Dua contoh pergeseran pemahaman misi dalam gereja masa kini yang menjunjung tinggi dialog lintas agama:

  1. Pluralisme

Menerima dan mengakui kebenaran dalam agama lain tanpa membuang keunikan kebenaran agama yang mereka percayai. Apalagi ada pemahaman bahwa Kristus ada dalam semua agama.

  1. Teologia Religionium

Menggabungkan sebua kebenaran yang ada dalam agama-agama dan menolak kemutlakan dalam agama yang dapat menjadi benteng pemisah.

  1. Menekankan aksi sosial

Kaum Oikumenikal cenderung menekankan dimensi sosial atau kemanusiaan  dan bergerak melalui aksi sosial. Dr. Richard A.D Siwu menjelaskan bahwa konferensi Edinburgh merupakan titik awal gerakan mission    ner protestan modern yang mulai menghubungkan misi atau pekabaran Injil dengan masalah global yang dihadapi gereja Kristen pada umumnya diabad modern ini baik masalah yang diakibatkan oleh penyebaran peradaban Barat maupun fenomena agama-agama non-Kristen.[7]

 

  1. Penekanan perbaikan kehidupan tanpa penebusan

Bentuk serangan iblis di zaman ini adalah pemberitaan Injil tanpa salib.Yang ada hanya sukacita, kemakmuran, kepuasan, dll.Harus diingat bahwa salib adalah kemanangan Allah, sehingga tidak mungkin ada orang yang berkemenangan tanpa salib Kristus.

 

  1. PERAN MISI BAGI PENYEHATAN GEREJA

Biarlah gereja memusatkan perhatiannya pada Injil, memberitakan tentang kristus dan penyalibannya, maka gereja akan menjadi jawaban, bukan masalah.[8]Misi akan mengembalikan gereja pada fungsi yang sesungguhnya.

  • Misi mengembalikan hakekat gereja

Misi begitu dekat dengan jantung kehidupan gereja, maka gereja harus bersifat missioner, jika berhenti bersifat missioner, ia tidak sekedar gagal dalam salah satu tugasnya, lebih dari pada itu ia telah berhenti menjadi gereja.[9]

  • Misi menjadikan gereja fokus pada tujuannya
  • Misi menyehatkan Theologia Gereja

Tidak ada teologi tanpa misi, dan tidak ada teologi yang tidak missioner.

  • Merestorasi tugas dan panggilan gereja

Koinonia atau persekutuan merupakan kata yang banyak terdapat dalam perjanjian baru, sering erat hubungannya dengan Roh Kudus.yang paling terkenal dalam 2 Korintus 13:13, yaitu “rumus-berkat” yang tiap-tiap minggu diucapkan pendeta dalam kebaktian-kebaktian kita:”kasih karunia Tuhan Yesus Kristus dan Kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian. persekutuan dengan Roh kudus di sini apa? jawabnya tidak begitu sukar: kasih karunia Tuhan Yesus ialah kasih karunia yang Tuhan berikan. kasih Allah ialah kasih yang Allah berikan. jadi persekutuan Roh kudus ialah persekutuan yang Roh Kudus berikan, yaitu persekutuan dengan Allah dan persekutuan dengan orang lain. Tetapi bukanlah itu satu-satunya jawaban.persektutuan Roh Kudus dapat juga sebagai genetivus objectives, diterjemahkan dengan persekutuan dengan Roh Kudus. Terjemahan ini sangat kuat ditekankan oleh Theolog. Menurut mereka “koinonia” adalah suatu realitas dengan banyak aspek: pada satu pihak ia adalah relasi antara pribadi-pribadi, yaitu relasi yang mencakup baik kepentingan bersama, maupun kepentingan timbal balik, dan pada lain pihak ia adalah partisipasi dalam = (persekutan dengan) sesuatu yang dimiliki bersama. Nats-nats-nats yang demikian banyak dalam perjanjian baru tentang koinonia berarti bantuan praktis dalam bentuk uang atau bentuk lain sebagai tanda kasih dan tanggung jawab persekutuan. ayat lain, dalam roma 15:26, kalau penulis katakan, bahwa makedonia dan akhaya telah mengambil keputusan untuk “mengadakan koinonia dengan” (=memberikan bantuan atau sumbangan kepada) saudara-saudaranya yang miskin di Yerusalem. dalam 2 korintus 8:4 dikatakan bahwa, anggota-anggota jemaat makedonia mendesak rasul paulus, supaya mereka juga diperkenankan “karena koinonia” (=untuk mengambil bagian) dalam pelayanan orang-orang kudus di Yerusalem.[10]

Oleh sebab itu, koininia merupakan tugas gereja dimana dalam persekutuan jemaat saling memperhatikan, dan membantu. Tugas diakonia.Saling mengasihi dalam jemaat bukanlah tujuan akhir.Ia terarah pada kasih kepada semua orang. Oleh kasih Kristus jemaat merasa terpanggil memberitakan firman dengan perkataan dan perbuatan, memberitakan firman Allah kepada semua orang yang berada di luar jemaat.Kasih yang benar tidak mengenal batas.Ia selalu terarah kepada manusia yang kongkrit yang Allah tempatkan di jalan hidup kita, siapapun manusia itu. hal ini dijelaskan Yesus waktu Ia menceritakan perumpamaan tentang “orang samaria yang murah hati” sebagai jawaban siapakah sesamaku manusia (Lukas 10:29-30).[11]

 

  1. SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB DALAM PEMBAHARUAN GEREJA?
  2. Teolog

Berteologi dalam pemahaman Alkitab yang benar.

  1. Pemimpin gereja

Gereja yang baik haruslah:

  1. Membenahi doktrin dalam gereja berdasarkan Firman Tuhan. Termasuk menempatkan misi dalam doktrin utama gereja
  2. Gereja menjadi pendorong sekaligus pelaksana utama misi Allah

Program Gereja harus dibaharui kembali dengan menjadikan Misi (proklamasi Injil) sebagai program utama

  1. Sekolah Theologia

Penekanan misi dalam setiap program studi.

  1. Mahasiswa Theologia

Konsep pelayanan adalah proklamasi Injil kepada manusia berdosa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abineno, J.L CH,  Diaken, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008

Abineno, J.L CH,  Pokok-Pokok Penting dari Iman Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia,      2008

D.A Carson, Gereja Zaman Perjanjian Baru dan Masa Kini, Malang: Gandum Mas, 1997

Kirk,  Andrew, Apa itu Misi, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012

Guthrie, Shirley, Christian Doctrine, London: Westminster John Knox Press

Lumintang,  Stevri Indra, Misiologi Kontemporer, Batu: Literatur PPII, 2006

Sinaga, Martin L dkk, Pergulatan Kehadiran Kristen di Indonesia: Teks-Teks terpilih Eka Darmaputera, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005

Siwu, Richard A.D Misi dalam Pandangan Ekumenikal dan Evangelikal Asia 1910-1961-1991, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996

Peters, George W., Teologi Pertumbuhan Gereja, Malang: Gandum Mas, 2013

Tomatala,Yakob Teologi Misi, Jakarta: YT Graduate School Of Leadership, 2003

 

 

[1]Shirley C. Guthrie, Christian Doctrine, (London: Westminster John Knox Press), 351-352

[2]Martin L. Sinaga dkk, Pergulatan Kehadiran Kristen di Indonesia: Teks-Teks terpilih Eka Darmaputera, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), 25

[3]Andrew Kirk, Apa itu Misi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), 37

[4] Stevri Indra Lumintang, Misiologi Kontemporer, (Batu: Literatur PPII, 2006), 129

[5] Yakob Tomatala, Teologi Misi, (Jakarta: YT Graduate School Of Leadership, 2003), 90

[6] Shirley C. Guthrie, Christian Doctrine, ..349

[7] Richard A.D Siwu, Misi dalam Pandangan Ekumenikal dan Evangelikal Asia 1910-1961-1991, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), 26

[8]D.A Carson, Gereja Zaman Perjanjian Baru dan Masa Kini, (Malang: Gandum Mas, 1997), 11

[9] J. Andrew Kirk, Apa itu Misi…, 36

[10]J.L CH Abineno, Pokok-Pokok Penting dari Iman Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 150-151

[11]J.L CH Abineno, Diaken, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, ), 28

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *