KEONG RACUN (Bekicot vs Manusia Beracun)

Oleh: Marlina.

Beberapa tahun yang lalu, lagu “keong racun” sempat ngehits. Nama hewan ini dipopulerkan oleh hits Sinta dan Jojo yang mengacu pada playboy/pria yang dianggap menjijikkan.

Hewan Keong racun sebenarnya punya nama latin yang keren loh : Achatina fulica Bowdish atau populer juga dengan nama bekicot. Menjijikkan ? Eit….don’t judge the book by its cover! Semua mahkluk diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan.

Lendir hewan ini mengandung protein yang bersifat antibacterial sehingga dapat menyembuhkan luka dengan cepat.

“Bekicot sering kali membawa hewan lain pada tubuhnya atau berperan sebagai vektor dari angiostrongylus cantonensis. Cacing kecil ini dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia, yaitu meningitis/radang otak, bila bekicot dimakan secara mentah/ tidak dimasak secara benar.”

Read more: https://id.wikipedia.org/wiki/Bekicot

Loh kok jadi bahas hewan sih…..saatnya kembali ke laptop! Bekicot dalam bahasa Jawa sering juga diplesetkan untuk orang yang kebanyakan bacot ( tukang obral omongan). Omongan bisa bervariasi, dari basa-basi, kejadian actual, gossip, ampe fitnah. Banyak juga omongan beracun yang membakar emosi bahkan amarah. Efek racun juga bervariasi tergantung daya tahan tubuh orang yang teracuni. Herannya, si bekicot yang berakal budi ini, tidak sadar bahwa dirinya sering meracuni orang-orang disekitarnya. Persis halnya dengan keong racun/bekicot yang berlendir dan tidak berakal budi, kan. Perbedaannya adalah dalam wujud fisik : bekicot asli berlendir, bercangkang, tidak bisa lari dan kurang sedap dipandang oleh mata manusia. Sedangkan bekicot yang berakal budi lebih keren ( di mata manusia tentu saja), lebih tinggi, berparas, dapat berlari, dan tentu saja licin, mudah berkelit walaupun nampak luar tidak berlendir.

Bagaimana cara menghadapi/menikmati bekicot ? Kalau bekicot asli, tinggal comot, cuci dan dimasak sehingga bermanfaat untuk berbagai keperluan: untuk snack ( kripik bekicot), untuk makan/lauk : sate bekicot. Mau upgrade bisa jadi escargot, makanan mewah ala Prancis. Bagi yang belum pernah mencicipi menu bekicot, silakan mampir ke Kediri, kota Tahu ( sekalian promosi kampung halaman tercinta nih J )

Khusus untuk bekicot yang berakal budi, penanganannya lebih rumit sih. Gak mungkin kan kita comot apalagi dimasak ? Oh no…..bisa cannibalism. Seandainya ada yang sanggup melakukannya, kurasa dagingnya juga gak akan tercerna deh, hati-hati bisa merusak pencernaan! So, lebih baik mengolah/memasak racun-racun tersebut agar berguna bagi diri kita atau minimal menetralisir racun tersebut. Seperti halnya pada bekicot asli, kalau memakan dan memasaknya tidak benar/masih mentah, resiko meningitis/ radang otak.

Tips menangani keong racun yang berakal budi :

  1. Kalau bisa menghindar / walk away lebih bagus. No need to waste our time/life. Biarkan bekicot memiliki habitatnya sendiri.
  2. Kalau tidak bisa menghindar karna serumah/sekantor/alasan lain : Hadapi dengan kepala dan hati yang dingin.
  3. Cari bantuan bila tips no 1 dan 2 buntu. Bantuan bisa kepada orang yang dipercaya dan lebih pengalaman/lebih senior/ yang dihormati/disegani. Bilamana diperlukan, bisa juga mencari bantuan professional ke psikolog, konsultan, dll.
  4. Jadikan keong racun ini sebagai “public relation”/ penyebar berita dalam komunitas/keluarga. Dijamin cepat dan efektif. Sisi positif dari seorang keong racun.

Akhir kata, semoga semua mahkluk hidup berbahagia dan jangan biarkan kerikil ataupun racun mencuri kebahagiaan kita. Bersyukurlah……cuma keong racun/bekicot kok. Belum ular Taipan, Piton, Cobra dan kawan-kawan.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *