MISI HOLISTIK DAN TANGGUNG JAWAB GEREJA (STUDI KOMPARATIF MISI EKUMENIKAL DAN EVANGELIKAL)

Oleh: Tony Tobing.

Latar Belakang

Ketika berbicara tentang Misi yang terbesit dalam pikiran kita ialah pengutusan keluar, dalam arti yang sederhana yaitu pengutusan seseorang atau beberapa orang oleh lembaga untuk memberitakan kabar keselamatan bagi semua orang. Seiring berjalannya waktu, praktek Misi ini mengalami persoalan  yaitu adanya kubu ekumenikal dan kubu evangelikal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman para tokoh gereja mengenai Misinya memiliki orientasi yang berbeda. Mereka yang berlatarbelakang katholik dan protestan menekankan dimensi masyarakat syalom (adil, damai, kasih) yang sering disebut dengan istilah Kerajaan Allah sebagai realitas sekarang dan akan datang. Sedangkan mereka yang berasal dari gereja pentakosta, Injili dan advent cenderung menekankan transformasi “individual” yang utuh. Paradigma Misi gereja secara umum dipahami, bahwa gereja berfungsi sebagai fasilitator terhadap pencapaian sasaran dan tujuan Misi.[1]

Salah satu contoh pelayanan Misi ekumenikal ialah Rumah sakit Katolik Santa Clara. Rumah Sakit Santa Clara adalah rumah sakit katolik di kota Madiun propinsi Jawa timur Indonesia. Rs Santa Clara didirikan oleh kongregasi Suster – Suster Misionaris Claris dari Sakramen Mahakudus yang dalam kiprahnya menitikberatkan pengabdiannya dan seluruh hidupnya bagi kemanusiaan. Adapun yang menjadi Misi dari Rumah Sakit Santa Clara adalah :

  • Memberikan pelayanan kesehatan dengan penuh kasih dan hormat terhadap harkat dan martabat manusia.
  • Memberikan pelayanan kesehatan secara komprehensif dan bermutu untuk seluruh lapisan masyarakat.
  • Mengupayakan peningkatan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia secara efisien dan berkelanjutan.
  • Mengupayakan pelestarian lingkungan hidup.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan zaman dengan segala segi kebutuhan, maka rumah sakit santa clara memberanikan diri untuk merealisasikan Visi dan Misinya dalam pelayanan. Yakni menghadirkan belas kasih Allah dengan mewujudkan Rumah Sakit yang memberikan pelayanan prima dengan dasar nilai-nilai kristiani. Sebagai pencinta dan pembela kehidupan yang mengunggulkan pelayanan keperawatan dipadatkan dalam moto “Kasihku menyembuhkanmu”. Dengan menyadari bahwa kemegahan gedung dan kelengkapan fasilitas fisik bukanlah satu – satunya yang menentukan kualitas pelayanan, maka RS Santa Clara menerapkan pelayanan yang lebih manusiawi terhadap setiap pasien yang datang dengan mengupayakan peningkatan dan pemanfaatan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien.[2]

Adapun salah satu contoh Misi evangelikal yang dapat kita lihat saat ini ialah kebaktian kebangunan rohani. Salah satunya ialah Gereja Tiberias Indonesia mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani Natal pada hari Sabtu, 4 Desember 2004 bertempat di Stadion Utama Gelora Bung Karno,  Senayan, pada pukul 18.00 WIB. Tema dari pada KKR ini adalah sama dengan moto gereja Tiberias, yaitu Mempersiapkan Jemaat yang Kudus, Misionaris dan Siap ke Sorga. Acara ini akan dilayani oleh Gembala Sidang Gereja Tiberias Indonesia, Pdt Drs Y Pariadji, STh dan Pdt Gilbert Lumoindong, STh bersama lebih kurang 150.000 umat Tuhan se Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Bandung, dan Sukabumi.[3] Melihat kedua contoh Misi di atas, nampak perbedaan yang mencolok, gereja katolik yang berorientasi pada Misi kemanusiaan, sedangkan kaum Injili yang menekankan pelayanan rohani.

Berdasarkan latar belakang yang disertai contoh di atas, maka penulis akan membuat studi komparatif terkait Misi menurut pandangan ekumenikal dan evangelikal sesuai dengan hand book yaitu: Misi Dalam Pandangan Ekumenikal Dan Evangelikal Asia, yang ditulis oleh Pdt. Dr. Richard A.D. Siwu, dan pada bagian akhir, penulis akan memberikan tanggapan dari beberapa teolog Misi, serta kontribusi penulis kepada beberapa pihak terkait dengan judul makalah ini.

Misi Dalam Pandangan Ekumenikal

Gerakan ekumenikal modern dimulai dengan World Missionary Conference (WMC), atau konferensi Missionary se-Dunia (KMD), yang dilaksanakan di Edinburgh tahun 1910. Gerakan ini kemudian dilembagakan dengan pembentukan International Missionary Council (IMC), atau Dewan Misi International (DMI) tahun 1921. SeJak saat itu persoalan-persoalan Misi sedunia dipercakapkan dalam konferensi-konferensi DMI. Ada beberapa alasan penting dibentuknya DMI.  Antara lain, adanya kebutuhan akan satu organisasi Misi sedunia yang bsa mengumpulkan berbagai badan Misi dan personalisa di bidang Misi untuk mengkaji masalah-masalah global tentang kegiatan Misi. Diharapkan bahwa badan internasional ini akan menjadi payung bagi semua badan Misi baik ditingkat nasional maupun kontinental. Sebenarnya kenginan untuk membentuk  suatu badan ekumenikal sedunia sudah dimulai dua tahun sebelum konferensi edinburgh, dengan pembentukan delapan komisi yang bertugas untuk mempelajari masalah global tentang Misi. Dalam kaitan ini perlu dicatat bahwa semua anggota koMisi ini hanya terdiri orang-orang barat dan tidak ada orang asia yang diikutsertakan. Posisi orang asia dalam hubungan dengan gerakan ini hanyalah sebagai koresponden koMisi-koMisi ini.[4]

Konferensi di Edinburgh merupakan titik awal gerakan Misioner protestan modern yang mulai keterhubungan Misi atau pekabaran Injil dengan masalah-masalah gbal yang dihadapi gereja dan kekristenan umumnya di abad modern, baik masalah-masalah yang diakibatkan oleh penyebaran peradaban barat maupun fenomena agama-agama non kristen. Suara-suara asia muncul terutama dalam rangka tanggapan terhadap pokok-pokok yang berkaitan dengan masalah Misi Kristen di Asia, yakni hubungan antara gereja-gereja tua dan muda, hubungan agama Krsten dan agama-agama serta sistem-sistem non Kristen dan kebudayaan-kebudayaan di Timur.[5] Ternyata, masalah hubungan yang bersifat paternalistis antara gereja-gereja tua dan muda, yang telah mucul di Edinburgh tahun 1910, masih terus menjadi salah satu topik pembicaraan pada konferensi Yerusalem. Sungguhpun begitu, tampaknya, fenomena industrialisasi dan modernisasi barat yang mulai melanda Asia, dibarengi dengan kebangunan kembali agama-agama dan sistem non Kristen di Asia lebih menarik perhatian konferensi. Fenomena ini agaknya dianggap oleh sebagaian besar peserta konferensi sebagai tantangan pokok bagi tugas panggilan gereja dan orang kristen. Maka, kendati masalah hubungan antara gereja tua dan gereja muda masih merupakan pergumulan utama gereja-gereja Asia, suara-suara Asia yang muncul dalam konferensi Yerusalem lebih terarah pada fenomena yang disebutkan. Dalam kaitan dengan penyebaran industrialisasi dan modernisasi, pertama-tama dapat dicatat bahwa, ternyata, Asia menaruh perhatian serius terhadap dampak modernisasi barat, khususnya demokrasi, yang memungkinkan lahirnya nasionalisme. Dalam pada itu, mereka menganggap bahwa persoalan sosio-politis dan ketegangan rasial yang muncul di Asia adalah juga dampak dari modernisasi dan menjadi tantangan Misioner gereja-gereja Asia. Karenanya, hubungan antara iman Kristen dan nasionalisme didislusikan. Hal ini terlihat misalnya pada presentasi dari D.Z.T. Yui.[6] Setelah itu ada beberapa konferensi lagi yang dilaksanakan oleh kaum Ekumenikal.

Dengan memperhatikan tema-tema dalam beberapa konferansi di beberapa tempa dapat di mengerti bahwa struktur pandangan Ekumenikal di Asia berakar baik pada oikumene seluruh dunia maupun pada situasi-situasi nasional dan lokal. Dengan kata lain, pandangan-pandangan yang muncul pada tingkat nasional atau lokal diangkat ketingkat regional dan internasional, dan sebaliknya. Misalnya pada satu sisi, istilah Misio Dei dipinjam oleh orang Asia dari oikumene sedunia, sedang pada sisi lain, istilah kontekstualisasi dari Asia digunakan diamanapun saja sekarang dalam rangka mengembangkan teologi kontekstual. Hal ini secara jelas diterapkan pada pengutusan delegasi suatu konferensi regional atau internasional, yang mana utusan resmi itu menjadi wakil dari gerejanya, entah ditingkat nasional atau lokal. Berikut, tampaknya pengaruh Asia dalam konferensi-konferensi Misi sejak mexico city sampai dengan San Antonio lebih besar dari pada sebelumnya, karena sejak New Delhi 1961 tidak ada perbedaan lagi antara barat dan non barat dibidang Misi yang dijalankan oleh DGD. Dalam hal ini, Asia berpartisipasi penuh dan aktif dalam oikumene internasional, dimana tokoh-tokoh  seperti M.M. Thomas, S.J. Samartha, S.W Ariarajah, Ch. Duraisingh, dan Fung muncul sebagai pemimpin dibidang umum, Misi, evangelisme dan dialog. Selanjutnya, konferensi-konferensi KKAT/KKA merupakan kesempatan bagi Asia dalam merefleksikan dan mempraktekkan Misi dalam konteks Asia sendiri. Dalam hal ini, KKA merupakan wadah ekumenikal Asia yang berperan memupuk keesaan gereja-gereja di Asia di dalam kepelbagaian mereka dan, bahkan memelihara baik kelangsungan (ing: continuity) maupun kesenjangan (Ing:discontinuity) konferensi-konferensi ini.

Pada kenyataannya, baik KKA maupun DGD ada saling ketergantungan. DGD tergantung pada apa yang terjadi di negara-negara Asia dan, sebaliknya, KKA tergantung pada perkembangan yang terjadi diperingkat dunia. Demikian, maka dapat saling mempengaruhi dari tingkat internasional terhadap tingkat nasional, dan sebaliknya. Hal ini jelas dimana banyak gereja Asia adalah anggota baik KKA maupun DGD. Dengan begitu, keAsiaan gereja-gereja Asia tidak hanya dipertahankan pada tingkat benua atau tingkat KKA saja, melainka terutama berakar pada tingkat nasional, yaitu pada setiap negara yang ada gereja. Selanjutnya, saya kami melihat bahwa satu cara khas orang-orang ekumenikal Asia dalam membaca dan menafsirkan Alkitab adalah dengan merefleksikannya dari pengalaman konkret di Asia. Dengan kata lain, penafsiran Alkitabiah didasarkan pada konteks kultural, religius, sosial dan politis gereja di Asia. Sebagai konsekwensi, maka cara mereka berteologi tidaklah dalam rangka menerapkan teks ke dalam konteks, melainkan memahami teks dengan kerangka konteks. Lalu, dapat pula disimpulkan bahwa teologi sistematis tentang Misi dari kalangan ekumenikal Asia mengacu kepada dua konsepsi pokok yaitu Misi Allah di dalam dunia dan gereja sebagai subyek berMisi. Pada satu pihak, tidak diragukan bahwa orang-orang ekumenikal Asia setuju dengan ekumenikal sedunia, bahwa Misi itu pertama-tama adalah Misi Allah; karenanya, gereja bukanlah pusat Misi. Pada pihak lain, orang-orang ekumenikal Asia berkeyakinan bahwa gereja atau persekutuan Yesus Kristus ditingkat lokal adalah instrumen dari Misi Allah. yang menjadi ciri khas kalangan ekumenikal Asia dalam memahami Missio Dei adalah, pada satu pihak, berprihatin dan menanggulangi masalah-masalah sosial politik, tetapi juga pada pihak lain, berdialog dengan agama-agama lain dan ideologi-ideologi.

Kemudian, dapat dimengerti juga bahwa teologi praktis tentang Misi di kalangan ekumenikal Asia mengacu pada tiga bidang pokok:

  • Pelatihan Misioner, yakni mendorong peranan orang-orang awam dalam Misi gereja.
  • Pemberitaan dan komunikasi, yakni menerjemahkan arti Misi dan evangelisme masa kini, dan
  • Keadilan dan pelayanan, yakni wujud nyata dari partisipasi gereja dalam Misi Allah di dalam dunia.[7]

Melalui uraian di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa Misi kaum Ekumenikal lebih memperhatikan konteks, yaitu pergumulan manusia, baik dari segi sosial, ekonomi, politik, kebebasan dll, dan melakukan penafsiran Alkitabia yang didasarkan pada konteks kultural, religius, sosial, dan politis.

Misi Dalam Pandangan Misi Kaum Evangelikal Asia

Struktur pandangan evangelikal di Asia secara garis besar mengikuti struktur pandangan Evangelikal sedunia. Pandangan-pandangan Evangelikal yang muncul pada peringkat dunia, misalnya, bermisi atas dasar iman pribadi atau Kristen “lahir kembali”, bahkan Misi yang menekankan pertumbuhan gereja secara kuantitatif muncul pula pada Evangelikal di peringkat Asia. Dimanapun di Asia terdapat organisasi atau agen-agen Misi sebagai wadah orang-orang “Kristen lahir kembali” bersekutu dan melakukan kegiatan-kegiatan penginjilan. Struktur pandangan Ekumenikal berbeda dengan struktur pandangan Evangelikal. Struktur pandangan ekumenikal, kendati memiliki jaringan regional dan global, pada hakekatnya berakar pada situasi lokal dan nasional. Sebaliknya, struktur pandangan evangelikal, walaupun sangat terbuka pada kemandirian gereja lokal, pada hakekatnya berhubungan erat dengan keyakinan evangelikal sedunia. Dengan kata lain, pandangan-pandangan evangelikal sedunia diterapkan atau dibawa ke situasi lokal atau nasional. Selain itu, pengutusan peserta ke kongres atau konferensi berlainan dengan yang berlaku pada ekumenikal. Kalau pada pihak ekumenikal peserta itu adalah utusan yang mewakili gereja atau lokal atau nasional, maka pada pihak evangelikal peserta itu adalah utusan yang mewakili organisasi-organisasi Misi atau badan-badan para church.

Partisipasi Asia dalam gerakan evangelikal telah mulai sejak berdirinya persekutuan evangelikal sedunia (1951), berikut kongres-kongres evangelisasi di Wheaton dan Berlin (1966), namun suara-suara mereka baru mulai muncul secara vokal pada kongres Lausanne (1974), kemudian pada kongres pattaya (1980), dan kongres laussane II di manila (1989). Partisipasi Asia yang sangat mencolok di antara kongres-kongres yang baru disebutkan terakhir adalah pada kongres laussane II di manila, dimana Thomas wang duduk sebagai direktur kongres dan mengartikulasi tugas Misioner kaum evangelikal sedunia menghadapi tahun 2000. Di samping itu muncul pula orang-orang seperti Vinay Samuel, Vernando, Stephen tong, Eduardo Maling, Lee Yih dan Bong Rin Ro sebagai pembicara, baik di depan kongres maupun dalam seksi-seksi yang tidak kurang peranan mereka. Pada kenyataannya, wadah orang-orang evangelikal di Asia dimulai dengan keterikatannya dengan persekutuan evangeikal sedunia (World Evangelikal Fellowahip) lewat asosiasi Misi asia (Asia Mission Assosiation), tetapi kemudian menemukan wadah mereka yang baru secara mandiri, yakni persekutuan Evangelikal Asia. Lain dengan keanggotaan dari wadah ekumenikal Asia (Konferensi kristen Asia), yang terdiri atas gereja-gereja nasional dan dewan-dewan gereja nasional, keanggotaan persekutuan evangeikal Asia terdiri atas lembaga-lembaga penginjilan: badan-badan Misioner dan agen-agen para church serta organisasi-organisasi gerejawi yang bercorak evangelikal di Asia.

Paradigma utama orang-orang evangelikal Asia dalam membangun teologi Misi berbeda dengan orang-orang ekumenikal. Kalau orang-orang ekumenikal di Asia menggunakan paradigma “kontekstualisasi” untuk membangun teologi Misi, maka orang-orang evangelikal Asia menggunakan paradigma “aktualisasi” perkataan Alkitab untuk membangun teologi Misi. Orang-orang ekumenikal berangkat dari pengalaman konteks sosial, politis, kultural, dan religus yang konkret (teologi kontekstual), sedang orang-orang evangelikal berangkat langsung dari konteks Alkitab (teologi berwawasan Alkitab). Dengan perkataan lain, mengacu pada prinsip evangelikal sedunia, orang-orang evangelikal di Asia berkeyakinan bahwa Alkitab tidak dapat keliru dan tidak dapat salah (infallibility). Dalam hal ini orang-orang evangelikal lebih mengutamakan aktualisasi perkataan Alkitab dalam situasi apapun dari pada kontekstualisasi untuk membangun teologi Misi. Bertalian dengan pemikiran sistematis, kami mengamati bahwa teologi sistematis evangelikal di  Asia tentang Misi juga sesuai dengan keyakinan evangelikal sedunia tentang penugasan agung ( great Commission). Hal ini membuatnya berbeda dengan kalangan ekumenikal. Orang-orang ekumenikal umumnya menekankan keutamaan Misi Allah (missio dei) di dalam dunia, sedang orang-orang evangelikal menekankan amanat missioner Yesus pada orang-orang Kristen “lahir kembali” untuk melaksanakan penginjilan. Dengan perkataan lain, ekumenikal mengutamakan diimensi sosial dari karya penyelamatan Allah, sedang evangelikal mengutamakan dimensi individual penebusan Kristus. Bagi evangelikal tugas-tugas penginjilan harus dilakukan terutama oleh orang-orang kristen lahir kembali lewat organisasi-organisasi para church, sedang bagi ekumenikal Misi adalah tugas utama dari gereja.

Mengenai pemikiran praktis tentang Misi, penulis mengamati dalam buku ini bahwa, sama halnya dengan ekumenikal, orang-orang evangelikal menaruh perhatian pada peranan kaum awam atau warga gereja dalam tugas-tugas Misioner. Perbedaan mereka ialah, pihak ekumenikal memperlengkapi orang-orang awam dalam rangka kehadiran Kristen di dunia, sedang pihak evangelikal menerima karunia-karunia orang awam dalam rangka melaksanakan Misi Kristen. Dalam menerima tugas Misioner itulah, menurut pengamatan kami, evangelikal mengakui adanya orang-orang Kristen “lahir kembali” yang bersekutu dengan lembaga-lembaga penginjilan, hal yang tidak terdapat pada gerakan ekumenikal, untuk mencari yang hilang, dalam rangka melaksanakan penugasan Agung. Namun, sama seperti kalangan ekumenikal, kalangan evangelikal juga menaruh perhatian serius terhadap tugas tanggung jawab sosial kristiani dan menerimanya sebagai bagian dari Misi dan evangelisme. Perbedannya ialah, pada pihak ekumenikal tanggungjawab sosial dilihat sebagai bagian dari mengungkapan Misi masa kini, sedang pada kalangan evangelikal hal itu adalah kelengkapan dari evangelisme. Baik gerakan ekumenikal maupun gerakan evangeikal menggunakan istilah dialog sehubungan dengan tugas Misioner ditengah pluralisme agama. Namun, pihak ekumenikal menggunakan istilah dialog dalam rangka membangun suatu hubungan yang toleran, seimbang, dan saling menghormati antar penganut agama dan ideologi yang berbeda, sedang pihak evangelikal menggunakannya dalam rangka mengkomunikasikan Injil kepada orang-orang bukan Kristen.

Penulis juga memperoleh data yang cukup dalam buku ini dan memberikan kesimpulan sementara bahwa tampaknya kalangan ekumenikal lebih berhasil memberi wajah asia pada pola pikiran tentang Misi dari pada kalangan evangelikal. Dengan istilah kontekstualisasi dan dialog, pihak ekumenikal berhasil mempengaruhi seluruh kekristenan, namun pihak evangelikal asia pun memperlihakan keberhasilan tersendiri, yakni kegigihannya menarik orang banyak di asia menjadi kristen. Walaupun kalangan pihak evangelikal Asia memiliki coraknya tersendiri, namun diantara mereka terdapat beberapa perbedaan. Pada satu pihak, ada orang-orang evangelikal yang berada di dalam gereja bertradisi (Theodoore Williams, Chan-In Kim, dan Chris Marantika), pada pihak lain ada pula yang berada di luar gereja bertradisi (Petrus Octavianus, Khisida Kaoru, dan G.D. James). Di satu sisi terdapat beberapa pemikiran kalangan evangelikal yang terbuka dan dapat bersesuaian dengan pandangan ekumenikal, khususnya dalam hal tanggung jawab sosial (Vinay Samuel, Bong Rin Ro, dan J. Chongnahm Cho), di sisi lain terdapat pla pemikiran-pemikiran yang berada jauh di seberang pemikiran ekumekal (Ajith Fernando, Akbar Abdul-Haqq dan Helen Kim).[8]

Dengan demikian, Misi kaum evangelial lebih menekankan personal, yaitu Misi pertobatan dan membimbing manusia yang belum percaya kepada Kristus kepada iman.

 

Misi Gereja Adalah Misi Yang Holistik

Pada bagian ini, penulis akan memberikan benang merah dalam menyikapi perbedaan pandangan Misi ini dengan pandangan beberapa praktisi Misi, yang tentunya setiap pandangan tersebut sangat berpengaruh terhadap Misi gereja. Gereja adalah agen tunggal Misi Allah dalam dunia. Oleh sebab itu, gereja harus memiliki pemahaman yang jelas dan terarah tentang Misi agar tidak terjebak ke dalam suatu paradigma yang sempit tentang Misi. Memperhatikan kedua perbedaan yang mencolok Misi kaum ekumenikal dan evangelikal, maka pada bab keempat ini, penulis akan membahas bagaimana Misi seharusnya. Arman Barus menulis:

Misi holistis merupakan tema penting dalam Misiologi. Mengapa? Karena selama ini dianggap praktek Misi jemaat Kristen tidak bersifat holistis. Banyak pakar merasa perlu menambah kata sifat holistis pada kata Misi. Misi yang dilakukan oleh gereja selama ini dianggap bersifat fragmentaris, bukan suatu keutuhan. Banyak yang memisahkan dengan tajam pemberitaan Injil dan perbuatan sosial. Jadi frasa Misi holistis merupakan upaya merumuskan Misi kontemporer sebagai suatu keutuhan. Misi dipandang sebagai suatu tindakan utuh yang meliputi baik pemberitaan Injil maupun perbuatan sosial. Keduanya dianggap sama pentingnya. [9]

Dengan demikian dapat dipahami bahwa Misi kaum ekumenikal dan kaum evangelikal sama pentingnya, dan keduanya harus berjalan beriringan, itulah yang disebut dengan Misi Holistik. Dalam kamus besar bahasa indonesia, khususnya edisi ke tiga, holistis yaitu berhubungan dengan sistem keseluruhan sebagai suatu kesatuan lebih dari sekedar kumpulan atau bagian.[10] Menurut Stevri Lumintang, Misi yang seutuhnya ialah berdasarkan Injil yang seutuhnya. Yaitu menegaskan empat hal, yaitu:

  • Injil adalah kebutuhan manusia yang mengalami distorsi karena dosa. Manusia tidak berdaya, rusak dan hanya Injil yang membebaskan manusia.
  • Injil adalah kabar baik untuk manusia masa kini. Injil memanggil orang untuk datang kepada Allah supaya mengalami kelepasan dari dosa dan akibat dosa.
  • Kristus adalah inti berita Injil yang diberitakan dalam konteks dunia yang pluralistik.
  • Gereja dipanggil untuk meujudkan Misi Allah melalui penginjilan dan tanggung jawab sosial.[11]

Lumintang pun melanjutkan bahwa Misi yang seutuhnya, yang bertolak dari Injil yang seutuhnya, secara otomatis menuntut peran gereja yang seutuhnya dan seimbang, yaitu antara peran dan pemberitaan mengenai pembebasan manusia dari masalah rohani melalui penebusan, dan pembebasan dari masalah sosial yang berakar pada masalah rohani tentunya. Misi yang seutuhnya adalah Misi kepada dunia yang seutuhnya. Dunia yang seutuhnyalah yang menjadi proyek Misi yang seutuhnya. Dunia memerlukan berita pembebasan dari persoalan utama manusia, yakni dosa dan akibatnya, dan memerlukan aksi pembebasan dari semua persoalan manusia. Dunia yang seutuhnya ialah

  • Dunia dalam konteks modern dengan semua tantangannya, baik populasi, pola hidup, dan spirit modern yang dipengaruhi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  • Dunia dalam tantangan Misi, yakni tidak ada komitmen Misi (uncommitted), adanya orang-orang yang belum diinjili (the unevangelized), dan adanya orangorang yang terabaikan (the unreached).
  • Dunia dalam tiga situasi yang sulit: orang Kristen yang adalah warga masyarakat yang setia, mencari kesejahteraan di negara dimana mereka tinggal; orang Kristen yang meninggalkan metode-metode penginjilan yang tidak pantas menurut mereka; orang Kristen yang merindukan kebebasan beragama untuk semua orang, bukan hanya pembebasan untuk orang Kristen saja. Jadi Misi yang seutuhnya adalah Misi yang lahir dari keyakinan mengenai Injil yang seutuhnya, yang prihatin dengan dunia yang seutuhnya, dan yang mewujudkan peran gereja yang seutuhnya. Inilah Misi yang seutuhnya, yaitu Misi yangs seimbang antara penginjilan dan pelayanan sosial.[12]

Dengan demikian makin jelaslah apa itu Misi holistis. Sebagai orang Kristen, sebagai pelaksana Misi kita harus memahami hal ini, bahwa Misi itu harus holistis, tidak hanya menekankan satu bagian saja, Misi itu harus menyeluruh dan lengkap sebagaimana yang Kristus lakukan di dalam dunia, Dia memiliki tugas utama, namun juga melengkapi tugas itu dengan holistis. Orientasi kepada penebusan, namun juga memperhatikan pergumulan sosial masyarakat, tetapi yang lebih penting dalam setiap pelayanan sosial yang Yesus lakukan, Dia selalu memiliki maksud yang bersifat rohani, yang pada akhirnya manusia memuliakan Allah. Masalah terbesar manusia bukanlah kemiskinan, penjajahan, ataupun pergumulan dalam bentuk sosial lainnya, melainkan dosa yang membuat keterpisahan absolut antara manusia dengan Allah. Tentu saja dalam melaksanakan Misi itu kita harus memahami konteks, namun kiranya aksi sosial janganlah dijadikan pola dalam melaksanakan Misi Allah.

Simpulan Dan Kontribusi

Menyikapi pandangan-pandangan di atas, penulis menyimpulkan bahwa Misi itu harus menyeluruh, dengan kata lain, Misi itu harus holistis, kita tidak boleh hanya menekankan salah satu, tetapi harus menyikapinya secara utuh.

Pada bagian akhir ini, penulis akan memberikan beberapa kontribusi kepada beberapa pihak yang terkait dengan Misi yang holistis:

  • Hamba-hamba Tuhan : kiranya setiap hamba Tuhan, dalam hal ini mereka yang telah mendapatkan pembekalan teologi, untuk tidak lagi mengajarkan tentang Misi dalam arti yang sempit, namun lebih menyeluruh. Dengan kata lain, tidak hanya menekankan kepada Misi pertobatan, namun juga memperhatikan kehidupan sosial orang yang dilayani.
  • Gereja-gereja :diharapkan gereja-gereja tidak hanya memperhatikan teks, tetapi juga memiliki kontribusi dalam hal pendidikan, kesejahteraan jemaat dalam hal ekonomi, serta memiliki program-program yang lebih terarah dan holistis dalam Misinya.
  • Lembaga-lembaga Misi : tentu saja setiap lembaga Misi memiliki fokus pelayanan, namun penulis berharap agar lembaga-lembaga Misi berperan juga memberikan pemahaman Misi holistis kepada calon Misionaris, sehingga para Misionaris tersebut memiliki paradigma yang holistis dalam Misi, dan mampu melaksanakan pelayanan Misi tersebut secara komprehensif.

 

 

 

 

Kepustakaan

_____________.

2012      http://rs-santaclara.org/home/visiMisi, Online.internet. Accessed Mei 7, 2013

_____________.

2005      Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka

Bild Ri di 21.56

2011      http://hawaibali.blogspot.com/2011/06/gereja-tiberias-mengadakan-kkr-di.html. Online.internet. Accesed Mei 7, 2013

Lumintang, Stevri I

2006      Misiologia Kontemporer, Batu:Lembaga Literatur PPII

Pramono, Rudi, et al.

2003      Misi Holistis, Jakarta: ICDS

Siwu, Richard A.D

1996      Misi Dalam pandangan Ekumenikal dan Evangelikal, Jakarta: BPK Gunung Mulia

 

         [1] Rudi Pramono Misi Holistis,  (Jakarta: ICDS, 2003), 58

         [2] http://rs-santaclara.org/home/visiMisi, di akses tanggal 7 Mei, 2013

         [3] http://hawaibali.blogspot.com/2011/06/gereja-tiberias-mengadakan-kkr-di.html, diakses tanggal 7 Mei, 2013

         [4] Richard A.D. Siwu, Misi Dalam pandangan Ekumenikal dan Evangelikal, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), 15

         [5] Ibid., 26

         [6] Ibid., 36

         [7] Ibid., 266-257

         [8] Ibid., 344-347

         [9] Rudi Pramono, Misi Holistis, 33

         [10] Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), 406

[11] Stevri I. Lumintang, Misiologia Kontemporer, (Batu:Lembaga Literatur PPII, 2006), 43

         [12] Ibid., 43-44

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *